Kamis, 30 Desember 2010

Fantasi..

Malam hari..ditanggal berbeda dan cerita yang tak sama..
ilusi memutar klise memory tanggal muda itu..
cengkrama berdua..membuang malam hingga larut..
habis dimakan canda..

Jemari menyentuh daun pinggangku..
Tidak bisa aku bedakan mana nafasku, mana nafasmu..
yang ku tahu lidah kita menari jadi satu..

Dinginnya malam tersulap menjadi hangat sebuah fantasi..
milikku, milikmu..milik kita, berdua..

Minggu, 28 November 2010

Mata

Adzan subuh berteriak menyuruhku untuk segera bersuci dan bersujud pada Sang Khalik. Tanpa melihat, aku sudah tahu arah kemana aku harus bersuci dan kemana aku harus bersujud.
Sedari kecil, dekorasi rumahku tak pernah ibu rubah. Ini dia lakukan agar aku mudah membaca arah mana saja yang harus aku lalui untuk menuju kemana dan dari mana. Arah jalan dari rumahku menuju mesjidpun tidak ada yang merubah, sehingga aku tahu kemana arah mesjid berada.

" Bu..tidak ikut?"
" Ibu shalat di rumah saja ya. Kamu hati-hati, Suf."

Subuh ini aku pergi sendiri ke mesjid dekat rumahku untuk menunaikan shalat subuh. Ibu tidak khawatir, meski aku tidak bisa melihat, tapi aku bisa mendengar dari arah mana shalawat nabi terdengar sebelum komat shalat.

" Shodakaullahuladzim.."
" Subhanallah Yusuf..aku merasa kamu telah menyimpan semua tulisan Al-Quran ini dalam hatimu. Bagaimana kamu bisa selancar ini membaca Al-Quran tanpa melihat? "
" Kan kyai yang mengajarkan saya, hahaha "

Ya. Kyai Haji Abdillah adalah sahabatku. Ia selalu memberiku semangat untuk terus hidup dengan kekurangan dan kelebihanku. Ia merupakan seorang ayah kedua bagiku selepas tiga tahun lalu ayahku meninggal. Begitupun Kyai Haji Abdillah, ia sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri karena ia tidak memiliki anak laki-laki. Anaknya satu dan berkelamin perempuan. Namanya Maryam, orang-orang bilang dia cantik dan usianya tak jauh dariku. Sayang..aku belum pernah bertemu dan sekedar mengucap salam kepadanya lantaran dia sedang menuntut ilmu di Mesir.

***

" Yusuf.. beberapa hari lagi aku akan mengadakan syukuran untuk anakku. Kamu bisa bermain piano di acara nanti untuk memeriahkan acara? "
" InsyALLAH, kyai.. kapan syukurannya? dan syukuran apa? "
" Senin malam ini. Anakku Maryam telah menyelesaikan studinya di Mesir, dia akan kembali kesini dengan gelar sarjananya. Suatu nikmat jika disyukuri bersama akan lebih terasa indah, bukan? "
" Alhamdulillah..saya usahakan bisa, Kyai. "

Pianis. Kata ibu, aku ini anugrah yang Allah titipkan padanya. Aku diberi keahlian bermain piano tanpa melihat not-not mana yang aku mainkan. Ya! aku seorang pianis. Ironisnya, sebuah perusahaan makanan dan muniman (cafe) tertarik dengan permainan pianoku, dan sudah lima tahun setelah kelulusanku dari SMA aku dikontrak kerja oleh cafe tersebut untuk bermain piano di lounge setiap malam di akhir pekannya. Lumayan, hasilnya bisa untuk bantu ibu menyulam hidup denganku sehari-hari.

" Bu..katamu, anak Kyai Haji Abdillah sangat cantik ya? Senin depan dia akan kembali kesini. Bisakah ibu gambarkan sebetapa cantiknya dia nanti? "
" Subhanallah..anakku jatuh cinta rupanya.."
" Aku hanya ingin membayangkan dengan hatiku seberapa cantiknya dia dimata ibu. Aku percaya pada ibu. "

Aku tidak mengerti ini apa namanya. Perasaanku selalu tidak nyaman kalau aku ingat aku sedang menghitung hari menunggu kedatangan Maryam. Mungkin nanti dia akan mendengar alunan piano yang aku mainkan diacara syukurannya, meski tanpa menghampiriku dan bertanya "siapa namamu?".

Ah! Ini hari sabtu, dua hari menuju kedatangan Maryam dan aku harus melupakan kegundahanku dan kembali bekerja malam ini dan besok. Biarlah pekerjaan memakan rasa ketidaknyamananku ini, itu lebih baik.

***

Senin pagi. Aku lupa kalau ini hari dimana Maryam akan kembali, dimana hari ini acara syukuran kedatangannya. Aku lupa! karena subuh ini absen shalat di mesjid yang membuat aku tidak bertemu Kyai Abdillah untuk sedikit membahas acara nanti.

" Suf..kata Kyai Abdillah, nanti malam jangan lupa ya! Ini sudah masuk hari senin. "

Sore hari umi Fatimah istri Kyai Abdillah menyusulku untuk segera menempati acara, karena Maryam sudah dalam perjalanan menuju rumahnya bersama Kyai Abdillah.

" Baik umi..aku sudah siap. Ayo bu..kita berangkat. "

Rumah yang hanya terhalang beberapa blok saja sudah aku singgahi, umi menempatkanku di tempat duduk depan piano tempatku bermain nanti. Karena salah tingkah, akupun memainkan nada-nada pelan dalam piano untuk mencairkan suasana hatiku yang tidak karuan.

" Bantu saya ya ALLAH, jangan Kau buat jantungku berlari-lari di kandangnya. Aku semakin bingung harus berbuat apa. Astagfirullah.. "


" Assalamualaikum! "

Aku dapat mendengar suara itu. Lembut dan ikhlas melepas salam. Maryam! dia sudah tiba dirumahnya, melapas rindu bersama ibunya, umi Fatimah. Dentuman rebana yang seharusnya menyambut kedatangannya, berubah klasik menjadi shalawat badar yang aku mainkan lewat piano, semoga Maryam mendengar dan merasakan bahwa aku hadir dalam acara tersebut.

Acara berlangsung dengan suka cita dari sanak saudara Kyai Abdillah yang menyambut Maryam kembali ke rumahnya, sedang aku? meneruskan bermain piano seperti biasa saat aku bekerja.

" Abi..siapa laki-laki itu? "
" Yang mana, Maryam?? "
" Itu yang sedari tadi aku lihat dia bermain piano."
" Oh..itu Yusuf, nak. "
" Boleh aku menghampiri ia? "
" Hampirilah.."

Jemariku melambat, mendengar ucap salam "itu" lagi, kini semakin dekat, mendekat dan perlahan pundakku terasa ada yang menyentuhnya.

" Assalamualaikum, Yusuf. "

Sentak jemariku mendadak kaku untuk menyentuh not piano. Suaraku berat membalas salam sang hawa dengan semilir wewangian saat menyentuhku tadi.

" Aku disini, Yusuf. Hai..aku Maryam."
" Maaf, aku tidak bisa melihat. Aku buta, aku....Yusuf. "
" Bagaimana bisa kau bermain piano tanpa melihat? "
" Allah maha adil, Maryam. Itu kata ibuku. "

Maryam mengajakku untuk menghentikan permainan pianoku dan bergabung bersama yang lain di tempat acara. Aku mendengar Kyai Abdillah memanggilku. Aku hampiri ia yang sedang berkumpul bersama sanak saudara dan teman-temannya dari pesantren tempat Maryam pernah menuntut ilmu ditingkat Madrasah Aliyah. Kyai Abdillah memperkenalkanku sebagai anak laki-lakinya, bukan sebagai tetangganya, bukan kakak Maryam, bukan sebagai adik Maryam, tetapi sebagai anak laki-lakinya. Aku tersanjung diakui anak oleh beliau. Beberapa orang berkata kalau aku tampan. Yah..manaku tahu rupaku seperti apa, Allah tidak menitipkan sepasang bola mata sejak aku lahir. Jangankan sepasang, satu saja tidak tapi indahnya, aku masih bisa bersyukur atas alasan itu.

***

" Assalamualaikum warahmatullah.. "
Tanganku menjabat ibu selepas salam shalat subuh dirumah. Aku memaksa ibu untuk menceritakan bagaimana rupa Maryam yang kemarin malam melihatku. Ibu hanya berkata " Subhanallah! ". Baik, aku sedikit mengerti, tapi? tidak mengerti.

" Jelaskan! aku ingin tahu. "
" Cantik, Suf. Dia berjilbab, berkulit putih dan murah senyum. Sayang kamu belum bisa melihatnya. "

" Izinkan aku melihat Maryam ya ALLAH, bagaimanapun itu caranya.Amien."
----


Seperti biasa, pagi hari ibu pergi ke pasar untuk mencari bahan masakan hari ini, sedang aku melatih keterampilan jemariku untuk mencoba lagu baru yang ku dengar lewat musik player, ya..itu rutinitas pagiku menjelang Dhuha. Tidak seperti biasanya hari itu aku kedatangan tamu, tamu wanita tepatnya. Maryam! dia datang ke rumahku.

" Apa yang membuatmu datang kesini, Maryam? "
" Permainan pianomu menarikku untuk datang kesini, maaf ya. "
" Kau suka piano, Maryam? "
" Sangat suka. Itu alasan mengapa aku menghampirimu kemarin saat acara syukuran. "

Tidak lama aku berbincang ringan dengan Maryam, alarmku bunyi itu tanda aku harus mengambil wudhu dan shalat dhuha. Aku mengajak Maryam untuk ikut shalat. Tak masalah jika dia harus melepas jilbabnya didepanku, toh aku tidak dapat melihatnya.

" Maghrib ini aku akan datang lagi kesini. Jangan shalat di mesjid ya. Aku ingin dengar suaramu membaca Al-fatihah secara lantang nanti saat maghrib. Aku pamit pulang dulu ya Yusuf, silakan teruskan bermain pianonya."

Sepulang Maryam, ibu datang. Mungkin mereka bertemu di mulut pintu, karena ibu sempat bahas sedikit mengenai kedatangan Maryam barusan.

" Dia suka piano, bu.. tadi kita shalat Dhuha berjamaah. Aku senang! "

Dapat aku tebak ibu sedang senyam senyum mendengar perkataanku barusan, karena dia tidak menjawab ucapanku malah meneruskan langkahnya menuju dapur untuk memasak.

***

Pucuk dicinta ulangpun tiba, baru saja hatiku berbicara mengenai Maryam, beberapa detik dia langsung datang ke rumahku. Aku menyuruh ibu untuk tidak pergi ke mesjid maghrib ini, biar dia menemani Maryam sebagai makmumku di shalat maghrib ini.


" Terjawab sudah rasa penasaranku, memang benar ternyata.."
" Kamu bicara apa Maryam? ibu tidak mengerti. "
" Makan sajalah dulu, baru berbicara nanti selepas makan malam. "

Selepas makan malam, Maryam menjelaskan mengenai ucapan yang tadi sempat menggantung, ibu bertanya kembali pada Maryam mengenai terjawabnya sesuatu yang masih membuat aku dan ibu ambigu.

" Tadi pagi saat Dhuha, aku menebak kalau Yusuf bisa menyanyi. Sekarang semua sudah terjawab, kalau Yusuf tak hanya bisa bermain piano, tapi bisa bernyanyi juga. "
" Aku mengerti..itu alasan mengapa kamu ingin shalat Maghrib dirumahku hari ini kan? hahaha..rupanya kamu ingin mendengar bagaimana aku melagamkan Al-fatihah dan surat-surat dalam Al-Quran saat shalat yah? "
" Yah..kamu benar Yusuf. "

***

Seminggu berselang, kedekatanku dengan Maryam semakin baik. Hampir setiap harinya Maryam berkunjung kerumahku hanya untuk mendengarkan piano yang aku mainkan, pernah sekali aku bawa dia ke tempat kerjaku dan melihatku bermain piano mengiringi malam di tempat kerjaku. Dia berkata aku sangat tampan dengan blazer yang aku kenakan. Nampak seperti komposer handal normal, padahal tidak bisa melihat.

Beberapa hari ini juga aku sering menemani Maryam pergi ke panti asuhan tempat dia memberi donasi kepada anak-anak yatim didalamnya. Bertambah lagi jalanan yang harus aku hafal, rumah menuju panti asuhan. Beruntungnya Maryam selalu bersabar membantuku untuk memperhatikan jalan, tanpa tongkat bantu, genggaman tangan Maryam membuatku selalu waspada berjalan ke depan, jika dia menggenggam sedikit kencang, itu artinya didepanku harus aku hindari, entah jalan berlubang atau akan menabrak sesuatu.

Aku merasa ada yang berbeda dengan hidupku. Aku mulai ketergantungan dengan keberadaan Maryam disampingku. Ingin rasanya aku menyentuh wajahnya, membuktikan perkataan ibu bahwa Maryam itu murah senyum dan cantik.

" Izinkan aku melihat Maryam ya ALLAH, bagaimanapun itu caranya.Amien."

Doa itu refleks keluar lagi dari hatiku. Semoga Allah mendengar dan mengabulkan. Aku tunggu..waktu.

Tiga hari lewat hari selasa, Kyai Abdillah datang ke rumah bersama umi Fatimah untuk menemuiku. Nampaknya sedikit serius untuk membicarakan sesuatu delapan mata denganku. Mataku menganga saat mendengar Kyai Abdillah menyuruhku menikahi Maryam.

" Atas dasar apa Kyai berkata seperti itu pada saya?? Kata ibu, Maryam itu cantik dan murah senyum, sedangkan saya buta, Kyai.. saya tidak yakin Maryam mau saya nikahi. "
" Sayangnya, ini permintaan Maryam. Bukan mauku dan umi Fatimah. Aku pribadi dan umi Fatimah setuju kalau kamu menjadi mantuku. Ini rencanaku sebelum Maryam datang dari Mesir. Aku ingin menikahimu dengan Maryam, dan ternyata Maryam yang memintanya sendiri, ide bagus toh? "
" Insyallah saya mau.. kapan itu berlangsung Kyai? "
" Nanti aku dan ibumu akan tentukan tanggal baiknya. Kamu dan Maryam tunggu saja hari baik itu datang. Semua sudah kita atur. "

***

Tidak pernah aku mengira sebelumnya..bahkan hatikupun tidak pernah menebak bahwa seorang buta sepertiku bisa menikah, ya!menikah. Tidak pernah aku meminta untuk diberi jodoh oleh Allah, aku cukup sadar diri sebagai orang buta, belum tentu ada yang mau. Tapi aku yakin ini doa Ibu untukku, sujud syukur telah diberi seorang Ibu yang luar biasa tidak kenal lelah menjadi indera penglihatanklu selama ini. Aku sayang Ibu.
---
Harinya tlah tiba, aku akan membaca ijab kabul didepan orang banyak di mesjid dekat rumahku, mesjid tempatku bertemu pertama kalinya dengan bapak mertuaku, mesjid saksi kebahagiaanku menyunting Maryam anak bapak mertuaku.
Prosesi berjalan lancar, semua nampak suka cita melihat aku menikah dengan Maryam. Tidak aku dengar selintingan yang memojokkan Maryam dari para tamu undangan. Aku hanya kasihan pada Maryam jika itu memang ada. Gadis secantik dia mau-maunya dinikahi lelaki buta seperti saya, astagfirullah!

***

Hari-hariku nyaris sempurna, dilayani oleh istri sholehah seperti Maryam, menemani aku bekerja bermain piano setiap akhir pekan, dan..mengurus putri kecilku Nuraisyah. Ya! aku kini seorang bapak, bapak dari satu putri yang aku kira dia cantik seperti ibunya. Waktu memang berjalan cepat, entah aku terlalu menikmati berkah yang Allah beri, entah memang seperti itu adanya, yang jelas terasa hidupku sempurna.
Belum, hidupku belum sempurna. Allah belum dengarkan doaku untuk memberi amanah sepasang bola mata agar aku dapat melihat alasan mengapa aku patut bahagia. Selama ini aku hidup dari bola mata Ibu dan istriku, tidak sepenuhnya dariku sendiri. Amien.

***

" Mas, aku izin pergi ke sekolah ya..aku akan mendaftarkan Aisyah sekolah di taman kanak-kanak. "
" Ide bagus. Apakah Aisyah sudah bisa membaca? "
" Dia cukup cerdas untuk ukuran anak sesusianya, ya..meski baru bulan depan dia genap lima tahun. "
" Boleh aku menemani ke sekolah? "

Pagi itu juga selepas sholat Dhuha kami bertiga pergi menuju sekolah dimana Aisyah akan mulai belajar. Menggunakan angkutan umum tentunya, karena Maryam tidak bisa mengendarai mobil yang bapak berikan untuk kami. Tapi disitulah awal mula kebahagiaanku berubah. Ketika kami hendak turun dari angkutan umum, sebuah truk melaju kencang dari arah belakang samping kiri. Aku yang hanya bisa mendengar kedatangan suara truk itu mendekat, merasa semua baik-baik saja. Aisyah yang aku gendong sentak terlempar entah kemana. Aku mendengar Maryam  berteriak memanggil namaku dan Aisyah yang terdengar sedang menangis, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi saat itu, badanku terlempar..sepertinya jauh dari tempat dimana aku berada, aku tidak mendengar teriakan Maryam dan tangisan Aisyah lagi, setelah itu tak tahu.

Baru aku dengar lagi Ibu yang menangis disampingku. Sepertinya aku tertidur pulas sekali, dan mataku..mengapa mataku diperban? Sesuatu terjadi dengan mataku, dimana Maryam dan Aisyah putri kecilku? aku tidak mendengarnya bersuara lagi.

" Ibu..aku dimana??? "
" Nak, kau sudah bangun?? "
" Dimana Maryam?? Dimana Aisyah?? Dimana aku??? "

" Sabar, nak..ikhlaskan semuanya. "
" Bapak? mengapa semua menangis?? dimana Maryam dan Aisyah?? aku dimana?? "

Tidak ku dengar jawaban dari Ibu dan Bapak (Kyai). Mencoba mengontrol diri sendiri saat ada orang yang membukakan perban mataku secara perlahan.

" Yusuf..coba buka pelan-pelan matanya.. "

Aku turuti perkataan dokter yang membukakan perbanku tadi, subhanallah! aku melihat cahaya! ada dua wanita dan satu pria paruh baya disekitarku. Baik aku akan menebak, itu adalah Ibuku, Bapak dan Ibu mertuaku. Alhamdulillah! Allah mendengar doaku selama ini.

" Terima kasih ya Rabb..akhirnya Kau amanahkan saya untuk dititipkan kedua bola mata untuk melihat sekitarku. melihat Ibuku, dan mertuaku, dan Maryam?? Aisyah?? "


" Dimana Maryam dan Aisyah, Bu?? aku ingin melihat anak dan istriku yang katanya sangat cantik. "

Lagi-lagi hanya bisu jawabannya. Aku tak tahu dimana anak dan istriku berada sekarang, semua diam membuatku bermain dengan teka teki jawaban. Semua menangis, entah..menangisiku yang kini sudah dapat melihat, atau Maryam dan Aisyah.......

***

Tiga hari sudah dari kesadaranku, dokter akhirnya mengizinkanku untuk kembali pulang ke rumah. Tiga hari sudah dari kesadaranku, aku tidak melihat dan mengetahui keberadaan anak dan istriku dimana dan bagaimana.
Sebelum meninggalkan rumah sakit, aku sempat berkaca untuk melihat diriku seperti apa. Alhamdulillah, aku bergumam dalam hati, ternyata aku tidak jelek-jelek amat untuk ukuran pria tampan. Hidupku sempurna dengan sepasang bola mata baruku. Belum, dimana Maryam dan Aisyah??
---

Sesampainya aku dirumah, aku melihat anak kecil menjawab salamku. Aisyah??! mungkin itu dia. Aku terburu-buru memasuki pekarangan rumah dan menghampiri suara dimana anak kecil itu berada. Subhanallah! Apakah ini Aisyah anakku?? kemana separuh kaki kanannya?? Putri kecilku kaki kanannya buntung. Aku menangis saat menggendongnya. Mungkin ini jawaban dari pertanyaanku selama di rumah sakit, kasihan putriku..sudah cantik kakinya buntung.

" Dimana Umi, nak?? "
" Disini, mas..aku Maryam istrimu. "

" Subhanallah..cantik sekali istriku. "
" Maryam?? "

Aku tak bisa menahan air mataku untuk jatuh terus menerus. Segala puji dalam hati aku tahmidkan mengiringi kesempurnaan hidupku sekarang, tapi tunggu! aku melihat hal menjanggal pada Maryam.

" Maryam, aku disini..lihat aku. Aku sudah bisa melihatmu sekarang. Kamu cantik sekali. "
" Mas..aku tidak bisa melihat sekarang. "

Rasa petir menyambar hatiku kala itu. Setahuku Maryam bisa melihat, mengapa sekarang tidak??

" Aku titip mataku ya, Mas..Biar matamu aku simpan baik-baik di mataku. "
" Jadi, penglihatanku ini adalah......"

Maryam menganggukkan kepala sambil tersenyum dan berkata " Itu mataku, Mas. "

Subhanallah! Aku menangis sambil memeluk anak dan istriku. Terima kasih ya Rabb, kini hidupku sempurna. Dikaruniai anak sekuat Aisyah yang tidak pernah mengeluh diberi kekurangan pada kakinya, diberi istri yang sholehah dan ikhlas menukarkan matanya demi penglihatan suaminya yang penuh kekurangan.

" Terima kasih ya Rabb..kini ku bisa melihat Maryam, istriku..ahli surga-Mu. Alhamdulillah."

Selasa, 07 September 2010

ATAS NAMA ALLAH.. *love story pasangan beda keyakinan* PART II

Siang itu aku ada janji bertemu kak Angel untuk mampir ke asrama kampusnya di kawasan Parompong Lembang. Kak Angel adalah mahasiswa keperawatan yang sempat magang di rumah sakit tempatku dirawat beberapa bulan yang lalu. Agama dia nasrani namun toleransi beragamanya kuat sekali. Beberapa kali dia menyuruhku sholat kala kumandang adzan terdengar dari mesjid percis belakang kampusnya.

"Kak..aku gak bawa mukena."
"Sebentar..kakak pinjam ke kamar atas dulu ya..ada teman kakak yang muslim disitu. Kamu tunggu disini saja sama Kak Meiti."

Aku menunggu kak Angel membawakan mukena untukku sholat Dzuhur. Diam aku diranjang kak Angel sambil melihat sekitar ditemani kak Meiti yang sedang asyik menyanyikan lagu Kahitna. Selang sepuluh menit kak Angelpun datang membawakan mukena untukku.

Tiga jam sudah aku bercengkrama bersama kak Angel dan kak Meiti di kamar mereka. Aku mengajak kak Angel untuk mengantarkanku ke gerbang kampus untuk kembali pulang.

Memang dasar senang berbicara, setiap tikungan orang yang dia kenal selalu dia sapa sehingga membuat perjalanan dari asrama ke gerbang pintu depan terasa lama.

"Hai kak..kenalin ini adikku..Ayu namanya. Mau kemana bawa al-kitab?"
"Ke Gereja. Hallo..saya Fred. Fred Adrian Hutagalung. Kok muka kalian beda?katanya adik kakak?"
"Adik-adikan namanya juga. Terang aja beda."

Aku menjabat tangan kak Fred disertai senyum kecil. Entah yang keberapa kali aku berjabat tangan dengan orang-orang didalam kampus ini. Mungkin lebih dari sepuluh karena saking banyaknya orang yang kak Angel sapa.

Lagi-lagi aku harus tersangkut sebelum sampai di gerbang pintu depan. Kali ini aku masuk gereja kampus bersama Kak Fred juga. Sedikit ragu untuk masuk, meski hanya lihat-lihat persiapan mahasiswa setempat menjelang hari valentine yang tinggal menunggu hari dalam hitungan jari, bukan untuk beribadah.

Terdapat sekitar dua puluh orang yang sedang mendekor panggung utama ditambah sepuluh orang yang sedang latihan choir dan satu orang bermain piano sebagai pengiring. Aku memaksa kak Angel untuk bergegas keluar gereja, lantas pergi mengantarku ke gerbang depan, tanpa intermezo kanan-kiri lagi.
***

*beep..beep*
"Dek..kamu dapat salam dari teman kakak.namanya Richard. Richard Putra Simangunsong jurusan akuntansi. Dia dibawah kakak satu tahun."

Pantas saja ada orang yang tiba-tiba kirim SMS ke ponselku mengaku sebagai Richard, teman kak Angel toh.

Aku meraba fikiranku. Mencoba mengingat wajah Richard yang mana. Ia berkata bahwa ia melihatku saat di gereja kemarin. Kita saling melihat namun sekilas. Kata Richard, dia yang sedang bermain piano ketika itu. Aku ingat, namun mukanya masih samar-samar dalam fikiranku.

"Aku rasa kita perlu kopi darat. Kapan dan dimana kamu bisa, Yu?"
"Selepasku pulang PKL ya..di mall yang dekat dengan tempat PKLku. Sampai jumpa, Kak Richard."
(SMS)
***

Hari itu aku bekerja dengan dihantui rasa penasaran. Ingin rasanya delapan jam kerjaku tersulap menjadi satu jam saja. Sehingga tak perlu lama-lama menunggu untuk segera bertemu dengan Richard.

"Kok ngelamun?itu telepon angkat, Yu"

Astaga! Kak Resa mendapatiku melamun. Aku tidak sadar kalau telepon terus berdering dari tadi. Sigap aku bangun dari lamunan dan meraih telepon untuk aku sambungkan ke divisi dalam kantor.

Syukurlah, aku tidak melamun lagi. Pekerjaan bertambah dengan sendirinya sampai-sampai tak sadar kalau aku sudah extance bekerja selama satu jam. Manajer tempat kerjaku menyuruhku menyerahkan semua sisa pekerjaan pada orang yang dapat giliran shift selanjutnya. Ok ! Aku pulang. Ah! tidak..maksudku ini saatnya aku bertemu dengan Richard.

Dag! Dig! Dug! Gemetar seluruh tubuh teman setia jantung yang berjoging ria. Semakin aku teruskan langkah kakiku menuju tempat yang sudah disepakati aku dan Richad sebelumnya, semakin kencang pula jantungku berlari-lari seputaran paru. Baik..aku sudah sampai di tempat yang sudah dijanjikan. Tak ada seorang pria disekitaran. Padahal menurutnya, ia sudah berada di tempat.

"Ayu.."

Seorang pria dengan wewangian yang khas muncul dibelakangku. Ya Tuhan ! tampan sekali Richard. Mukanya seperti Jonathan Liem, imut-imut dihias mata sedikit sipit dan bibir kecil dengan wangi tubuh yang sangat khas (maklum blasteran Medan, Manado, Chinesse).

"Saya Richard. Udah lama nunggu?"
"Baru kok, kak."
"Richard. jangan ada embel-embel 'kak' ya..saya ingin tampak beberapa tahun seumuran denganmu, Yu..hehe"

Kami larut dalam perbincangan selama satu jam sembari menyantap kentang goreng pesananku. Dapat disimpulkan bahwa Richard ini orangnya ramah dan murah senyum. Dua point positive dari pertemuan pertama kami. Good job, boy ! u shake my heart !


"Sudah masuk maghrib. Mau sembahyang, Yu?
"Oh ia..kamu tunggu disini gak apa-apa kan?"

Richard manggut-manggut. Dan akupun permisi sholat sebentar.
Bapak mengirimku pesan lewat ponsel, menanyakan keberadaanku dimana. Hmmm..rupanya Bapak menyuruhku segera pulang.

Hari itu Richard tidak membawa kendaraan, sehingga kami harus naik angkutan kota untuk menuju rumahku. Satu point plus lagi aku dapat dihari pertama kami bertemu.

"Kalau nyebrang..kamu di sebelah kiri. Biar aku yang di kanan."
"Kenapa?"
"Kan kalau umpama tertabrak, aku duluan yang kena..jadi kamu aman."

(Ya Tuhan ! Richard !)

Sesampai gerbang rumah, Richard pamit kembali ke asrama, tidak mampir sekedar mengucap selamat malam pada Bapak dan orang rumah. Dia bilang sih..belum berani.
***

"Wahai belahan jiwaku..
Debetlah cintaku dineraca hatimu.
Kan ku jurnal setiap transaksi rindumu..
hingga setebal laporan keuanganku.
Wahai kekasih hatiku..
Jadikan aku manajer investasi cintamu..
kan ku hedging kasih dan sayangmu,
disetiap lembaran portofolio hatiku.
Bila masa jatuh tempo tlah tiba..
jangan kau retur kenangan indah kita
biarlah ia bersemayam di reksadana asmara..
berkelana diantara aktiva dan passiva..
Wahai mutiara kalbuku..
hanya engkaulah master budget hatiku..
investor cintaku yang syahdu..
general ledgerku yang tak lekang ditelan waktu


                                               -Richard for Ayu-ku-"

Dasar penyair akuntansi. Setiap bait sajaknya menggunakan kata-kata yang sangat familiar ia dengar dan lihat di kelas. Sedang aku dalam ruang kerja hanya dapat tersenyum malu merasa disanjung.

Beberapa hari setelah kami bertemu, rutinitas komunikasi kami semakin lancar dan mendominasi. Layak seperti sepasang kekasih yang selalu laporan setiap apa yang akan, sedang dan sudah dikerjakan. Rasa hatipun ingin memberinya sekeping untuk dijaga.

Richard memberanikan diri untuk mengunjungi rumahku siang hari saat aku libur bekerja. Merasa nyaman saat berada di dekat dia, akupun memutuskan mengambil moment berharga ini dengan proses pengabadian.

"Foto yuk?di handphoneku saja.."

Richard meng-iakan dan kita puas merekam semuanya dalam kedipan-kedipan lensa.

"Ayu..Richard mau bicara.."
"Kenapa??lapar??"
"Bukan. Richard sayang sama Ayu."

Richard mencium pipi kiriku. Lembuuuutt sekali, aku terpejam sejenak, menikmati. Ingin rasanya aku balas bilang bahwa aku juga sangat menyayanginya, tapi aku tak berani. Biar nyali aku susun dulu untuk membalas kata-kata yang ia ucap barusan.

Untung saja..Ibu datangnya setelah moment berharga baru berlalu, hinggap dimakan kaget. Richard tak lama pamit pulang, mungkin malu, mungkin salah tingkah. Yang jelas menggebu dalam hati, ingin sekali aku memeluk dia pertama kalinya. Mencumbu harumnya wewangian tubuh khasnya, lalu ku tempelkan dalam hidungku untuk cadangan obat rasa rindu.
***

Malam hari, Bapak dan Ibu menyidangku. Menanyakan siapa pria yang tadi siang berkunjung menemuiku di ruang tamu.

"Richard namanya, Pak."
"Teman sekolah kamu?"
"Temannya suster Angel. Satu kampus dengannya, tapi bukan keperawatan."
"Teman apa pacar??"
"Teman Pak..temaaann."
"Bapak tidak suka kamu pacaran dengan lain agama apa lagi sampai menikah. DEMI ALLAH bapak tidak ridho! Jinah itu namanya. HARAM, Ayu!"

Aku hanya menjawab diam. Tertunduk menahan ingin menangis, lalu pergi ke kamar untuk melepas semuanya. Melepas rasa kesal, melepas rasa sesal, dan melepas air mata untuk jatuh akhirnya. Ku lihat galery foto dalam ponselku. Gambar yang sempat mengabadikan surga tigapuluh menit hari ini. Sedikit terobati, meski tidak mungkin untuk bisa sembuh.
***

Pagi hari aku minta Bapak untuk antarkanku ke tempat kerja. Sesampainya, Bapak mewanti-wantiku lagi untuk mulai jaga jarak dengan Richard dengan alasan aku takut termakan perasaan pada Richard. Masih mending kalau Richard dapat menjadi "imam", kalau tidak? mungkin aku siap-siap mencangkul ruang untuk mengubur sedalam-dalamnya rasa yang menyesak ini.

"Ayu..marah sama Richard?kok gak pernah balas SMS Richard? ditelepon gak pernah diangkat. Maaf kalau Richard salah sama Ayu. Richard sayang Ayu."

Berkali-kali Richard berkata tak jauh beda dengan kata-kata tersebut, sedang aku?diam dalam stansa elegi diiringi bayang sentuhan bibirnya yang sempat hinggap dipipiku saat itu. Ini caraku menjaga jarak dengan Richard. Benar kata Bapak, aku bisa termakan perasaan jika aku tidak melakukan hal yang tega seperti ini.

"Kali ini tolong angkat teleponku. Aku tidak akan bertanya apa-apa, aku mau kamu dengar sesuatu..begitu selesai, aku tutup sendiri teleponku nanti. Setelah itu tidak lagi."

Aku turuti keinginan Richard untuk menjawab telepon dia. Memang ridak berkata apa-apa, bahkan suaranya berbicarapun aku tidak mendengar. Perlahan not-not senar piano mengalun ditelingaku, sejauh ini hanya lantunan piano, kelamaan ku dengar suara Richard menyusul mengalun syahdu..ia bernyanyi..gemetar seperti setengah menangis. Mengundang air mata untuk jatuh dalam bauran dandananku saat itu.

"Mengapa haruuss..keyakinan..memisah cinta kitaaa..meski cintamu akuuuuu...sesungguhnyaa aku kangen kamuuu..dimana dirimuuu..aku gak ngerti..dengarkanlaahhh..kau tetap terindaahh..meski tak mungkin bersatuu..kau slalu adaaa..dilangkahkuuuuu" -Kahitna-


Hanya itu yang ku dengar dari Richard beserta alunan pianonya. Setelah itu telepon terputus, dan mungkin kami sama-sama menangis setelahnya.

Aku sempat berfikir mengapa Tuhan tak ciptakan keyakinan hanya satu, sehingga tidak ada pemeran opera roman picisan yang merasa dirugikan karenanya.
Beberapa hari Richard menghilang seakan mengerti kondisi kami bagaimana dan harus seperti apa. Rasa rindu mencumbu wangi tubuhnya menjadi semakin aktif, merasa kehilangan sesuatu yang seharusnya tidak diingat.

Berpekan-pekan rasa mengganjal dalam hati, penasaran punya keinginan mencoba menghubunginya..walau hanya tanya kabar, setelah itu sudah. Namun, apa daya nomor ponselnya tidak aktif. Ku tunggu beberapa hari, lalu coba menghubunginya lagi, siapa tahu aku beruntung, namun nihil kembali operator yang menjawab teleponku.

Kali ini aku pasrah, aku dengannya terhalang tralis prinsipil yang tidak bisa ditembus oleh apapun tanpa terkecuali. Aku relakan Richard, daripada aku harus gadaikan agamaku sebagai tumbalnya. Aku yakin, Tuhan pertemukan kita satu dalam surga. Aku yakin, aku tunggu waktu itu. Aku sayang Richard.




Selasai.


-Rianne Rahayu-
Cerpen kedua dibulan September.
070910*

Rabu, 01 September 2010

Latino...

"Rindu suasana taman cemara ini..waktu habis bermain bersama Latino saat kecil dulu..kemana dia sekarang?"

***
 Ku lihat mobil ayah menghampiri mengajakku pulang dari taman cemara itu. Seluruh tema hari itu adalah rindu. Rindu akan kebiasaan ayah bangunkan aku dipagi hari, rindu bunda yang selalu menciumku saat hendak aku akan tidur, rindu taman cemara, dan tentu kamu.. Latino.

Lama rasanya aku mati suri meninggalkan masa lalu. Sepuluh tahun sudah udara segar taman itu tak ku hirup. Tahu-tahu aku sudah termakan waktu menjadi gadis dewasa seperti sekarang.

"Ayah..aku izin pergi ke taman dulu ya.."

*taaaaaaaaaaapppp..*

"Siera..taman ini aku beri nama taman cemara..bagus kan?"
"Kenapa taman cemara??dimana pohon cemaranya??"
"Sejuk Siera..seperti hatiku saat lihat kamu mengejarku mengitari setiap pohon saat main petak umpet."

*tapppppppp...*

"Aku kesepian Latino..jangan bermain petak umpet lagi..kita sudah dewasa sekarang."

Perlahan aku gerakkan kaki pada satu pohon besar tempatku dan Latino berbaring saat rasa lelah datang sehabis bermain. Pohonnya sudah tua, daunnya sudah banyak berevolusi menjadi sampah kering selama sepuluh tahun terakhir ini. Aku baringkan lagi tubuhku di atas sisa-sisa sampah dedaunan kering yang sudah jatuh dan berantakan begitu saja.

*taaaappppp*
"Kalau sudah besar nanti..kamu menikah denganku ya..aku janji akan menikahimu.."

*taaaaappppp*

"Aku mau."
Seperti orang gila berbicara sendiri sambil berbaring. Tapi aku merasa Latino kecil berbicara padaku. Dekat..terasa dekat hingga senja membangunkanku untuk kembali ke rumah. Oh..aku sempat tertidur.

***

Senin. Aku mulai mencari-cari pekerjaan yang cocok denganku. Sehari dua hari terus menunggu panggilan yang tak kunjung datang. Selama itu pula aktifitasku habis untuk berbaring dibawah pohon di taman cemara, tanpa Latino. Sebulan dua bulan ponselku berdering. Salah satu perusahaan akomodasi di Bandung memintaku datang ke kantornya untuk wawancara pekerjaan yang "katanya" cocok dengan latar belakang pendidikanku. Seminggu sudah menunggu kembali jawaban wawancara akupun mendapat jawaban yang tidak mengecewakan. Ayah pernah bilang "mencari pekerjaan dengan usaha sendiri, lebih terasa syukurnya dibanding dititipkan kerja oleh seseorang yang sudah lebih lama di tempat kerja itu".

Baik, terhitung hari ini aku mulai menyibukkan diri di kantor baruku sebagai Sales Excecutive salah satu hotel bintang lima di Bandung. Tak sia-sia ayah mengajakku pindah ke Swiss selama sepuluh tahun. Selain Inggrisku menjadi aktif, sekolah pariwisata terbaikpun sempat aku jamah selama empat tahun. Dan inilah implementasinya.

Tugas pertamaku, mengenal sedikit demi sedikit karyawan yang bekerjasama denganku dalam satu divisi. Ku lihat namanya satu persatu dari bawah. Ari, Devan, Maula, Latino. Latino???? telunjukku mengarah pada posisi jabatan Latino, Sales Excecutive Assistant.

" Maula..saya minta tolong karyawan marketing semuanya ke ruangan saya ya.." tut..tut..tut..(by.phone)

Ku perhatikan raut wajahnya satu persatu. Ku sebutkan namanya untuk meyakinkan.

"Latino yang mana?"
"Sedang sales call, Bu."

***
Nama karyawan itu sama dengan Latino kecil, mungkin itu ia? bagaimana ia sekarang? dimana ia tinggal sekarang? masih ingatkah ia padaku? Ah ! terlalu banyak pertanyaan bersarang di otakku. Besok saja aku buktikan sendiri di kantor.

Malam hari ayah mengajakku dan bunda untuk makan malam di luar. Menikmati perbedaan kota kembang sepuluh tahun lalu dan sekarang. Ramai sama seperti sepuluh tahun lalu, banyak bangunan baru berjejer berdekatan, banyak pula pepohonan yang tumbang oleh mesin pemotong, membuat kesan panas jika matahari sedang beraktifitas.

Mobil berhenti di salah satu rumah makan jepang di kawasan jalan Sumatera Bandung. Ku lihat sosok pria tinggi tampan menggunakan blazer kantoran membawa buku catatan keluar restoran bersama seorang wanita. Tidak ku kenal siapa ia, merasa heran terus melihatku seolah-olah ia yang merasa mengenalku. Aku tak hiraukan ia, dan berjalan menghampiri meja ayah dan bunda untuk memesan makanan.

Sesekali aku melihat ke arah jendela, arah tempat parkir mobil. Siapa pria itu? Aku fikir ia sudah pergi bersama wanita tadi, namun kenyataannya pria itu masih betah melihatku dari kejauhan. Tampak malu aku melihat balik arah ia, iapun mulai beranjak pergi melajukan kemudi mobilnya.

***

Ayah sering bilang, "sebagai atasan usahakan kita datang lebih awal dari bawahan kita, meski kamu tahu itu belum masuk jam kantor. Hitung saja waktu loyalitas sebagai atasan."

Pukul tujuh limabelas aku sudah menempati kursi diruanganku. Disusul oleh Maula dan yang lainnya mulai menempati tempat kerja masing-masing.

tok..tok..tok
"Masuk."

Blasssssssssssssst ! Jantungku berdetak jauh lebih cepat dari biasanya, lututku sedikit gemetar, hatiku kacau, mataku menganga tak berkedip. Dalam hati terus bertasbih.
"ini kan??iniii pria yang semalam"

"Se..se..selamat pagi, Bu. Maaf kemarin saya belum sempat menghadap ibu. Saya sedang sales call."
"Kamu siapa?????"
"Saya Latino, Bu."

Latino menunduk, seolah malu. Aku dapat membaca kata-kata apa yang sedang ia rangkai dalam hatinya. Aku dapat merasakan apa yang ia rasakan kala itu. Dia sama bingungnya denganku bercampur malu karena semalam melihatku dari kejauhan yang kemudian berlalu karena aku balas melihatnya.

"Kamu yang semalam saya lihat kan?"

Suasana hati mencair dengan sendirinya. Mencoba untuk tetap tenang menghadapi pria satu ini. Dia manggut-manggut saat aku bertanya seperti itu.

"Maafkan saya Bu."
"Atas?"
"Semalam saya memperhatikan Ibu dari luar restoran."
"Boleh tahu alasannya?"
"Saya seperti mengenal Ibu, tapi saya lupa dimana."

Blaaaaaaasssstttt ! Hatiku kembali kacau. Pertanyaan bertubi-tubi menyerang secara bersamaan mendengar perkataan Latino.

"Baik..saya sudah tahu kamu sekarang. Silakan kembali ke mejamu sekarang."

Latino menutup pintu ruanganku, hentak sepatunya ku dengar menjauh dari arah pintu ruanganku.
Penyakit hati menyerang kembali hingga sampai di rumah.

***

Dengan pakaian kantor, aku berjalan menuju taman cemara. Aku melihat taman cemara ada yang mengunjungi. Bukan aku, dia laki-laki dan memunggungiku. Sepertinya aku kenal. Ku hampiri ia yang sedang meraba dahan pohon tua besar itu. Ku sentuh pundak kirinya lembut, tapi laki-laki itu tidak merasakan sentuhanku.

"Aku rindu kamu..dimana kamu?aku sudah dewasa sekarang.."

Keningku mengkerut saat pria itu berbicara. Ia jujur seperti tidak ada orang yang sedang memperhatikan ia, suara sampah dedaunan kering tidak cukup membuat ia peka akan kehadiran seseorang rupanya. Aku berbaring biarkan ia sampai waktu menyadarkan bahwa tidak hanya ia yang sedang berada disana. Namun kelamaan, bukannya sadar ia malah ikut berbaring disebelahku, tanpa melihatku disampingnya.

Mataku terpejam melihat langit yang terhalang dahan-dahan pohon besar tepat di bawah tempatku berbaring. Rupanya lelaki itu melihatku.

"Siera..."

Aku diam. Berusaha mengendalikan diri dan menyadari ini hanya mimpi. Perlahan bukan hanya suara panggilan memanggil namaku, tanganku seakan ada yang menggenggam halus. Akupun buka suara tanpa membuka mata.

"Inikah kamu, Latino?Tanganmu tidak seperti anak kecil lagi."
"Aku bawahanmu..Latino yang kini sudah tumbuh dewasa."

Mataku spontan membuka. Bangun dari baringan lalu melihat pria disamping secara nyata.

"Latino????" Setengah tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Ia benar-benar Latino. Karyawanku, Latino kecilku.

"Aku sudah dewasa sekarang, Siera.."
"Aku tahu.."
"Aku tidak mengenalmu."
"Tapi aku..masih mengenalmu, Siera.."
"Bagus kalau begitu."
"Aku akan menikah."
"Itu ucapanmu dulu. Kamu ingat?"
"Ya..aku ingat. Terlalu lama aku menunggu..kamu.."
"Aku sendiri.."
"Aku tidak."
"Maaf..aku harus pulang."

Latino menahan tanganku lalu menarikku keras hingga terlempar keras dalam tubuhnya. Aku menangis. Latino memeluk tubuhku hangat, pekat sesekali mencium keningku.

"Aku rindu kamu, Siera.. Pergi tanpa pamit itu tidak baik. Membiarkan anak kecil menunggu hingga dewasa bermain dengan kenangan. Kemana kamu selama ini? Aku kesepian."

"Aku kembali untuk kamu. Untuk bermain lagi di taman cemara seperti dulu. Aku fikir masih bisa, ternyata sudah berpenghuni. Maaf..aku harus pulang."

Latino melepas pelukannya, tidak lantas membiarkanku pergi begitu saja. Ia mencopot cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya itu.

"Lihat ini, Siera ! Aku melempar cincinku ! Silakan kamu cari di semak-semak sampah dedaunan kering temanku bermain menunggumu selama sepuluh tahun ini."

Aku terus membelakangi dia, dan meneruskan langkahku menuju rumah, namun Latino terus berteriak seolah minta aku peluk.

"Kamu tidak mencari cincinnya, Siera ! Itu artinya, masih ada hati untuk aku ! Peduli setan aku tinggalkan tunanganku untuk penuhi janjiku dulu !"

"Tuhan..bangunkan tidurkuuu..ia bukan Latino yang aku cari..tolong Tuhan..bangunkaaaannn..Aku janji tidak akan berkunjung lagi kesini, jika ini akan membuatku selalu mengingat Latino yang entah sekarang berada dimana"

Langkahku semakin menjauh. Tidak ku dengar teriakan Latino lagi. Mungkin dia sedang sibuk mencari cincin yang sempat ia buang tadi. Namun, sergap Latino berlari kencang menghampiriku yang sudah berada di ufuk jalanan.

"Jangan sembunyi lagi, Siera. Aku sudah menemukanmu. Kita tidak sedang bermain petak umpet lagi. Menikah denganku. Kita sama-sama sudah dewasa."
...........
"Jangan diam, Siera. Jawab !"

"Kamu..! Jangan bermain-main dengan tunanganmu. Aku wanita..betapa empatinya aku terhadap tunanganmu. Kamu tetap Latino kecil yang aku kenal. Jangan takut merasa kehilangan. Aku tidak akan sembunyi lagi. Aku tetap akan disini. Tidak untuk bersembunyi lagi"

"Akupun dewasa..lalu menikahlah denganku. Tunanganku mengerti..aku tidak cinta dia. Kami dijodohkan. Aku belum ucap janji nikah dengannya. Masih ada kesempatan untuk berlari menemukan hati yang sebenarnya. Jangan lari lagi. Aku butuh kamu..Siera."

Aku tak bisa menahan air mata yang terus jatuh minta diusap. Aku menyerah..terlalu banyak rindu yang aku simpan selama aku bersembunyi sepuluh tahun terakhir ini. Taman cemara tempat bermain kami semasa kecil. Taman cemara saksi janji menikah kami.. Taman cemara saksi kebahagiaan kami. Taman cemara..disitu aku bangun keluarga kecil bersama ia Latino, suamiku.

By : Rianne Rahayu
010910
(Cerpen pertama, masuk September 2010)

Sabtu, 07 Agustus 2010

Sumber Hidangan

SUMBER HIDANGAN

Jl. Braga no. 20-22, Bandung

Tel : 423.6638


Sumber Hidangan adalah toko roti yang sudah terkenal di Bandung. Terletak di kawasan sisa kolonial, dahulu pertama dibuka bernama Het Snoephuis pada tahun 1929. Toko roti ini masih menyisakan menu dan rasa yang sama seperti dahulu kala. Dikelola oleh generasi kedua, toko Sumber Hidangan yang berdiri sejak zaman kolonial dulu tetap mempertahankan cita rasa dan tradisi. Bahkan peralatan dan resepnya juga masih warissan dari zaman penjajahan Belanda. Bagi pecinta Ice cream bisa mencoba variasi ice cream yang tersedia. Ada banyak pilihan rasa. Coklat, vanila, mocca, strawberry dan kopyor bisa dipilih satuan. Atau kalau ingin semuanya, bisa coba ice cream spesial Sumber Hidangan yang terdiri dari campuran semua rasa ice cream yang ditaburi dengan kismis, buah kaleng segar dan buah cherry di atasnya. Ice cream spesial itu hanya dipatok Rp 9.000 saja. Untuk satu rasa cuma Rp 4.500. Walaupun sudah terkenal sejak masa penjajahan Belanda, kalau tidak jeli toko ini bakalan terlewat begitu saja. Tempatnya yang tertutup oleh kendaraan yang diparkir di pinggir jalan membuat toko yang terletak di Jalan Braga no 20 - 22 (persis didepan French Bakery dan London Bakery) ini gampang terlewat.*

Di bagian bawah estalase ada di simpan photo2 di Sumber Hidangan waktu jaman nya masih populer. Kursi2 n meja2 masih sama seperti dulu yang merupakan saksi bisu yg katanya waktu jamannya pernah di kunjungin oleh Ratu Belanda.. 
Roti tawarnya pun di bungkus dengan kertas coklat yg jaman sekarang dah gak kepake lagi...rasanya kalau baru matang emang sip, tapi kalau buat besokan hari rasanya biasa2 aja..

Oh ia..waktu gw kesana pas lagi Heritage Tour.. gw perhatiin, mesin kasirnya jaduuuullll banget ! kursi-kursi sama meja nya pun kayak yang gak diganti dari jaman "baheula" dulu -_-'
arsitektur dalemnya juga udah lapuk. pokoknya kalo lo semua masuk kesini udah kayak ada di film "Time Machine" deh..hadeuh..

Hmmmmmm...gw gak bakal tampilin foto-foto tentang Sumber Hidangan disini.. gw pengen lo dateng langsung kesana..dan merasakan gimana kondisi arsitektur bangunannya, rasa makanannya yang khas banget (pas gw kesana sih..cuma makan es krimnya aja..pake biskuit yang rasa "rum" nya tejem banget deh pokoknya!), slain rasa makanannya yang khas..lo semua bisa lihat sendiri mesin kasir jadul yang gw maksud. Tenaaanggg ada nilai plus-plus nya deh kalo lo semua kesana.. selain harganya relatif murah, historynya Belanda banget..yang layaninya juga plus-plus deh.

penasaran??? dateng dong ke Bandung..mampir ke Sumber Hidangan di Jl.Braga no.20-22. Hati-hati kelewat ya..kudu jeli matanya liat plang yang cuma seuprit. hehehehehe... 

Rabu, 07 Juli 2010

Dilema Samani antara Pendidikan dan Adat

Namaku Samani, sembilan tahun anak suku Baduy dalam. Aku dilahirkan dalam keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai adat istiadat suku setempat, Baduy. Begitu juga dengan ayahku. Ayahku sangat menjunjung tinggi nilai adat istiadat suku di daerahku, mulai dari keseharian menggunakan pakaian adat, bertani, hingga tidak mengenyamnya bangku sekolah.

Suatu hari aku beranikan diri bicara pada ayahku saat makan siang dirumah bersama Ibu dan adik perempuanku. Ya ! aku ingin sekolah. Ingin merasakan bagaimana berkenalan dengan alfabeta, dan tingkatan angka-angka yang sering aku ucapkan sehari-hari. Sayang..ayah melarangku untuk sekolah, dengan alasan "aku takut pintar!". Ayah sangat khawatir kalau nanti jika aku belajar secara formal, lantas aku tumbuh menjadi anak pintar, aku akan membodohi orang-orang termasuk keluargaku juga kelak aku akan merusak alam-alam Tuhan yang semestinya tetap apik dan terjaga sampai akhir dunia yang datang untuk benar-benar merusaknya hingga luluh lantah. Akupun mengubur dalam-dalam niatku untuk bersekolah.

Keesokan hari dan setiap harinya, ayah mengajakku untuk bertani. Mencabut rumput di pepadian, menebang kekayuan untuk bahan bakar, dan kegiatan alam lainnya.

Dalam alam aku menerima petuah dari ayah. Dia berkata, kalau selama ini aku sedang belajar, inilah cara belajar orang-orang suku Baduy, mengandalkan alam sebagai mediator praktisi. Ini yang namanya belajar, bertani dengan alam tanpa bantuan manusia sebagai tenaga pengajar.

Ku pendam dalam-dalam keinginanku untuk belajar. Ayah rupanya benar-benar sangat tidak setuju jika aku menerima pendidikan formal layaknya anak-anak pada umumnya, lantas tumbuh pintar, tidak primitif dan melupakan adat nenek moyang. Namun, ketika suatu ketika aku menuju perjalanan pulang dari tugasku belajar dengan alam (mencari kayu bakar), dari arah berlawanan aku melihat sekelompok anak seusiaku berseragam yang tak seragam berjalan berbalik arah menuju tempat aku sebelumnya. Hatiku seperti terpanggil untuk mengikuti langkah mereka..memutar arah langkah kaki dengan memanggul kayu bakar sebagai buku pelajaranku.

Mataku melihat ke arah bangunan yang dipagari oleh bambu sedada yang didalamnya terdapat anak-anak yang tadi aku ikuti sedang serius mengikuti apa yang gurunya katakan didepan. Oh mungkin ini yang dinamakan pelajaran mengeja dan membaca.

Perlahan ku lalui pagar bambu sedada tadi, ku simpan kayu bakarku disamping pagar masuk, lalu ku bersihkan kakiku yang teramat kotor oleh tanah merah sdengan sehelai kain keset, dan memberanikan diri masuk kedalam ruangan tempat mereka berada,  ternyata namanya "kelas". Aku bicara empat mata dengan guru berjilbab itu didepan anak-anak yang sedang diajarnya, "aku ingin belajar selepas aku menyimpan kayu bakar ke rumahku, tetapi tidak memakai seragam, melainkan menggunakan pakaian adat Baduyku". Dengan senang hati guru berjilbab sebaya Ibuku itupun mengizinkan ku untuk bergabung menimba ilmu disana dengan menggunaka pakaian adat Baduy, yah..meski aku diejek oleh teman-teman disekolah karena terlihat sangat berbeda pakaiannya.

Aku kini sadar, pendidikan adalah panggilan jiwaku. Sedalam-dalamnya aku berusaha untuk mengubur hasrat belajarku, semakin besar juga dorongan yang datang padaku untuk benar-benar ingin mencicipi apa itu yang disebut orang pintar, meski harus diam-diam dari ayah. Namun adat?? Aku berjanji, kalau aku pintar aku tidak akan membodohi semua orang lantas merusak alamku sesuai dengan larangan adat baduy, suku ku. Ini murni karena aku Samani ingin mencoba menjadi orang pintar yang mengenal alfabet dan angka-angka, bukan hanya mengerti ilmu tani dengan didikan alam. Sekarang..aku sangat menikmati menjadi siswa sekolah dasar kelas satu, semoga aku bisa menjadi orang pintar yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai adat Baduy.

Samani


" By : Rianne Rahayu_07 Juli 2010 "
Untuk Samani, anak Baduy..

Selasa, 29 Juni 2010

melamun..

bakau tersulut menembus ruang paru..

terlihat paha yang sedang terkulai santai di samping tralis jendela..

mata kosong melihat langit-langit..

oh aku melamun..


sekarnya terjatuh sentuh paha..

Aw! apinya terasa..

bakau ku padam..

tersiram air mata..

sadar dari lamunan..


(Rianne-290610 pukul 15:41)

Senin, 28 Juni 2010


there isn't something wrong with our ways ..
choose love with the necessity not to have ..
most secret God ..
secret of who we are soulmates ..
you ..
my soulmate is timeless ..
although not my true love ..
but you're the one on my heart..
until i couldn't breathe again..
you always on my step, on my sight, and on my lateral..

"you're my love, but it's not my true love"

Jumat, 25 Juni 2010

Rindu..

Rindu..

adalah ketika kita mencari pintu rumah
dalam jendela pesawat saat beranjak terbang..

ketika kita mencari tubuh seseorang
lewat jendela pesawat saat SUDAH menyentuh kapas serupa awan..

ketika kita mencium sejenis wewangian,
yang melekat pekat milik tubuh seseorang..

ketika sendiri membaca pesan
lewat sajak lelaguan..

ketika potret memeluk hati,
mengiringi aliran air mata berjatuhan..

Rindu..
ialah hasrat munafik serupa cinta
ketika aku ingin bertemu..
kamu..
untuk bersama hentikan waktu..


(Rianne - Rabu dini hari 23 Juni 2010 00:40)

- Elegi Hati -

Senja tuan berjalan di tepi hati..
Sendiri..
Sepi..
Dalam mata, mungkinkah tuan melihat lembayung??
bermata sayu beratap cinta mendadahi perlahan, lantas hilang tak terlihat..

Berjalan mandiri ditengah cipratan amarah..
mencoba tegar memikul pesakitan yang teramat..
Dalam telinga, mungkinkah tuan mendengar??
bisikan halus bersayap kasih yang ratu bisikan lewat semilir nafas mewangi..

Berhenti melangkahkan kaki..
Menjumpai dawai tergeletak..
Perawan..
Dalam genggaman tuan mencoba memetiknya..
Bunyinya teduh menemani bermain..

Terdengar suara dawai tak seperti biasa..
Langkah kaki rupanya..
Dalam hati, tuan memanggil..ratu..
Hadir dengan harum tubuh untuk dikecup..

Tuan bersabda biru, ratu menebar sepi.
Tuan memberi banyu, ratu membalas api.

Hati senang bermain-main sampai tiba waktu untuk terkekang jeruji akad.
Dia akan diam dan harus tetap diam bersama rusuk, tidak untuk bermain-main dan jangan sampai bermain-main lagi...

-Rianne Luna Moonfang-
Senin Malam 31 Mei 2010

emang orang pintar itu seperti apa???

iseng nanya pertanyaan bodoh kepada beberapa orang..

" menurut kamu, orang pintar itu seperti apa sih?? "

orang satu :
orang pintar itu adalah orang yang pintar mengerjakan setiap latihan matematika.*

orang dua :
orang pintar itu adalah orang yang bisa mendeskripsikan pemikirannya terhadap tulisan dengan bagus.*

orang tiga :
orang pintar itu adalah orang yang kritis terhadap sebuah atau paradigma pemikiran.*

orang empat :
orang pintar itu adalah orang yang jago debat!*

orang lima :
orang pintar itu orang yang hebat ngakalin orang lain.*

orang enam :
orang pintar itu adalah orang yang fikirannya konseptor dan bukan pelamar.*

orang tujuh :
orang pintar itu adalah orang yang kreatif membuat sesuatu.*

orang delapan :
orang pintar itu adalah orangnya cenderung diam, tapi mempunyai prestasi yang orang lain gak sangka-sangka.*

orang sembilan :
orang pintar itu adalah orang yang cenderung tidak puas dengan satu prestasi. Selalu ingin mencoba apapun.*

orang sepuluh :
orang pintar itu adalah orang yang sekalinya bicara, bisa bikin orang lain langsung diam!*


jadi, pintar adalah ???
orang pintar adalah ???

ATAS NAMA ALLAH.. *love story pasangan beda keyakinan*

Judul : Atas Nama ALLAH
By : Rianne Luna Moonfang



****

*beep..beep*
" Assalamualaikum, adek.. kakak tunggu di tempat biasa ya..(pelataran mesjid dekat rak sepatu, tempat biasa Kak Qibty sendirian menunggu Anissa untuk mentoring)"

Anissapun mempercepat langkahnya menuju tempat yang sudah didatangi Kak Qibty lima menit yang lalu. Mukanya memerah kepanasan, keningnya berkeringat dan mukanya sedikit pucat karena berlari dari kelasnya yang berada di lantai delapan gedung fakultasnya hingga mesjid yang letaknya beradius tiga ratus meter dari gedung fakultas Anissa.

Dengan nafas tersenggal-senggal, Anissapun sampai ditempat yang sudah ia tujunya, lalu pamit sebentar untuk mengambil wudhu, tadarus bersama, dan...

" Materi hari ini apa, kak?? "

" CINTA "

" Wow?! Gak boleh lama-lama nih kayaknya, langsung bahas aja.hehe.. "

Sebelum memulai materi cinta hari itu, Kak Qibty bertanya pada Anissa, apakah dia sudah mempunyai kekasih atau belum?. Dengan malu Anissapun menjawab "sudah" dan menyebutkan nama kekasihnya..ya..nama panggilannya.

" Theo kak namanya "

Kak Qibty tersenyum mendengar jawaban Anissa, dia sedikit iri, mungkin karena sampai saat ini dia belum mempunyai kekasih. Islamnya kental sekali, keluarganya tidak mengenal apa itu "pacaran", hanya ta'aruf dan menikah. Itu mengapa Kak Qibty betah sendiri hingga saat ini.

" Belum mau nikah, dek.. nanti saja ta'arufnya. Kira-kira kriteria kamu seperti apa, dek?? "

" Gak macam-macam.. hanya cukup satu iman denganku saja, Kak. "

Panjang lebar Kak Qibty menjelaskan tentang cinta yang seharusnya semua orang gunakan kepada siapapun yang mereka cintai, hingga kesimpulannyapun Anissa kirim pada Theo lewat pesan singkat.

" Theo..aku cinta kamu karena ALLAH. "

Theo tidak membalas pesannya, mungkin dia sedang berkutat dengan bahan-bahan obat yang sedang dia racik dan pelajari di kelasnya, hingga malam dia menelepon Anissa dan menjawab isi pesannya langsung pada gendang telinga Anissa.

Anissa semakin cinta pada imam yang ALLAH kirim untuk melengkapi harinya itu. Hampir dua tahun mereka berpacaran jarak jauh. Bertemu saja jarang, apa lagi membuat pertemuan dengan keluarganya langsung, rasanya itu satu dari mimpi besar Anissa saat ini, semoga saja ALLAH merealisasikannya.amien.

****

Akhir pekan minggu ini, Theo dan keluarganya akan datang ke Bandung untuk menjenguk saudara jauhnya yang sedang terbaring sakit. Ya! Ini kesempatan Anissa untuk bertemu dengan keluarganya. Akhirnya ALLAH menjawab doa Anissa, diapun bertemu dengan Ayah, Ibu, Nenek, dan adik laki-laki Theo yang seumuran dengannya. Mereka menyuruh Anissa untuk mengantarkan ke tempat makan yang unik dan bercita rasa lezat di daerah kota Bandung, Ibu Theo menyuruh Anissa untuk duduk didepan, karena yang membawa mobil kali itu adalah Theo. Sambil menikmati jalanan, mata Anissa refleks melihat benda yang menggantung di kaca spion yang berada di dalam mobil ayah Theo tersebut, (Salib) ya..dia melihat jelas itu bentuk salib. Kondisinya tiba-tiba sangat ambigu. Mencoba meyakinkan hati kalau benda yang dia lihat itu memang bukan salib. Berkali-kali matanya terpejam lalu membelalak, dan memang benda yang Anissa lihat itu adalah salib.

Ingin rasanya Anissa bertanya akan keambiguannya pada Theo ketika itu, tapi??nanti sajalah..Dia hanya takut merusak suasana yang sangat jarang itu dengan prediksi terburuk yang terus melayang-layang dalam otaknya. Pembicaraan ditutup. Sore hari Theo beserta keluarganya kembali pulang setelah sebelumnya Theo mengantarkan Anissa pulang terlebih dahulu.

****

Malam itu nyali Anissa cukup banyak untuk memberanikan diri bertanya masalah benda yang dia lihat di mobil Theo akhir pekan lalu. Jawaban Theopun malah membuat Anissa semakin ambigu.

" Oh..memang salib. Udahlah..aku aja gak mempermasalahkan atribut mobilku itu. Cuma assesoris doang kok, Niss. "

Baik. Jawabannya sangat tidak membuat Anissa puas, tapi Anissa lebih memilih diam daripada harus membangunkan amarah Theo yang mudah untuk mengerang tiba-tiba.

Semalaman hati Anissa bertanya-tanya. Ingin sekali lagi mencoba meyakinkan hatinya untuk menelepon Theo kembali kemudian bertanya hal yang sama dengan harapan bukan assesoris lagi yang Theo ucapkan, tapi? Anissa memilih untuk mengambil wudhu kemudian shalat tahajud untuk menenangkan hatinya yang sedang kalut malam itu.

**
Hari sabtu. Dalam taksi diperjalanan Anissa menuju Mall yang berada di kawasan Cihampelas Bandung, matanya melihat sosok pria yang sedang berjalan masuk menuju gereja. Stelan rapih berkemeja putih, berdasi hijau tua, celana bahan, dan sepatu pentofel mengkilat dengan rambut terkesan basah oleh gel. Lelaki itu nampak sangat dia kenal baik. Karena penasaran, Anissapun menghentikan lajuan taksi, lalu turun dan menghampiri lelaki tersebut.

" Theo?? lagi apa kamu disini?? "
" Eh..Nis????? euh...mmmmm...lagi....lagi....oh ia..selamat sabat. "

Anissa nampak kaget dengan apa yang baru saja dia lihat, ditambah dengan jawaban Theo yang terbata-bata, seakan meyakinkan kalau kekasihnya itu memang tidak seiman dengannya.

" Theo??kamu??Christian?? "

Theo hanya diam, dan mengalihkan pandangannya ke sekeliling tanpa menjawab pertanyaan Anissa. Terdengar suara Anissa dengan nada memaksa, hingga nyaris menangis dan......

taaaaappppppppp >>>>>

" Alhamdulillah.. cuma mimpi. "

Suara adzan subuh membangunkannya dari mimpi penuh teka teki itu, semoga saja sholat kali ini semakin memberikan celah jalan jawaban yang selama ini mendominasi otak Anissa.

****

" Theo.. aku mau bicara empat mata secepatnya. Kapan kamu ke Bandung?? kalau sempat, balas pesanku segera. i love you. "

Tak lama menunggu, Theopun membalas pesan Anissa. Ia janjikan akhir pekan ini ia akan ke Bandung untuk menemui Anissa seperti biasa.
Berhari-hari Anissa menunggu kedatangan akhir pekan, sabtupun tiba dan Theo menepati omongannya beberapa hari yang lalu.

Anissa dan Theo pamit pergi makan malam dan menghabiskan waktu mereka di luar pada kedua orang tua Anissa dirumah, dan disinilah Anissa menemukan apa yang dia inginkan.

" Fetucini Carbonara dan Lasagnanya, silakan..selamat menikmati. "

Makananpun tiba, dan pembicaraanpun dimulai. Dengan detak jantung yang dia rasa tidak beres, Anissa memberanikan diri bertanya secara langsung kepada Theo mengenai apa yang sudah sempat mereka bahas lewat telepon beberapa hari yang lalu.

" Ehm.. hampir dua tahun aku pacaran sama kamu, aku masih gak tahu percis agama kamu apa? Ehm.. jangankan agamamu, nama lengkap kamupun aku tidak tahu.. "

" Kamu ingin aku menjawabnya Anissa?? "

Mengangguk perlahan tanpa menjawab sambil memakan sesendok demi sendok Lasagnanya, Anissa merasakan detak jantungnya yang kian berlari dengan tambahan speed yang maksimal. Tidak berani sama sekali Anissa menatap wajah Theo saat itu, dia hanya takut Theo marah padanya ditempat umum seperti ini, namun.. Theo menjawab pertanyaan perlahan dengan nada tenangl.

(Baik Theo..demi ALLAH aku sudah siap mendengar apa yang ingin kamu sampaikan..demi ALLAH..)

" Nama asliku Thoedoron.. Theodoron Cornelius Pusomah. Agamaku... "

" Agamamu??? "

" Menurutmu?? "

" Christian. "

" Bagaimana bisa kamu mengira seperti itu, Anissa?? "

" Cornelius menguatkan perkiraanku. Nama itu seperti nama baptis seorang christian. benarkan? "

" Aku seorang advenist, Anissa.. maaf kalau kamu kecewa. Selama ini aku sembunyikan agamaku karena aku tidak mau kamu tinggalkan aku hanya demi perbedaan keyakinan kita. Perkataanmu mengenai kriteria laki-laki yang kamu inginkan menjadi alasan kuat mengapa aku sembunyikan jati diri agamaku. "

" Lalu?? Apa kamu tidak memikirkan cerita yang akan kita rangkai beberapa tahun ke depan?? "

" Sempat aku memikirkan sesuatu saat ulangtahunmu ke-19 tahun lalu. Saat aku tanya apa harapanmu menjelang tahun kepala dua, jawabanmu membuatku dilema berat. "

" Apa?? Jawaban aku ingin menikah diusia muda?? "

" Ya. Satu sisi aku ingin menikahimu segera, disatu sisi aku bingung menikahimu dengan cara apa? Pemberkatan atau Akad. Ayah Ibumu haji, sedangkan ayahku? dia seorang Pendeta, bukan pegawai pajak seperti pengakuanku dulu. Jujur, aku sempat menangis saat malam sabat beberapa hari setelah kamu berkata targetmu di usia kepala dua nanti, tapi Jesus Christ seakan memberi jalan pada mimpiku malam itu.. aku tidak akan berkata apa-apa sebelum kamu yang bertanya, dan aku akan menjalani hubungan ini seperti aliran air. "

Traaaanggggggggggg...
Sendok ditangan Anissa terjatuh ke lantai, matanya berubah menyayu, tubuhnya mendadak melemas, dan air matanya dengan sendirinya terjatuh.

" Yakinkan aku kalau ini hanya mimpiku, Theo.. "

" Sayangnya kamu sedang tidak bermimpi, Anissa. "

" Lebih baik, malam ini kita akhiri saja. Aku ingin mendapatkan kriteriaku yang sebenarnya, bukan karena unsur pura-pura. "

" Tapi Anissa.. rasa sayangku sudah tidak bisa aku berikan untuk orang lain lagi. Ulang tahunmu tahun ini aku berencana akan melamarmu, kalau kita akhiri semuanya, bagaimana dengan niatku? "

" Itu urusanmu. Aku hanya ingin menikah dengan imamku, yang menikahiku dengan cara akad, dan bukan pemberkatan. Aku capek, sekarang antarkan aku pulang. "

Theo menyerah dan mengikuti apa yang Anissa inginkan. Malam itupun setelah mengantar Anissa pulang, Theopun kembali pulang ke kotanya. Sepanjang jalan Theo menangis dan sesekali menyesali apa yang sudah Tuhan berikan padanya.
Kemudi mobilnya ia arahkan ke gereja. Disana ia menangis dan sesekali berteriak menyesali hidupnya.

" Tanya pada hatimu, nak.. semua tergantung prinsipmu. Kalau kamu yakin dia jodohmu, lakukan yang terbaik untuk kalian, tapi jika tidak Tuhan telah siapkan rusuk kirimu yang masih rahasia. "

Theo kemudian menangis dipelukan Ayahnya. Ayahnya mengajak Theo untuk pulang dan istirahat agar kondisinya membaik selepas matahari terbangun esok pagi.

****

(Theodoron..Cornelius..Pusomah.. atas nama ALLAH aku cinta kamu..tapi sayang kamu bukan imamku. Imamku muslim, bukan Christian. Selamat tinggal Theo.. semoga ALLAH mempertemukanmu dengan jodohmu).

Tiga bulan sudah Anissa merasa kehilangan semangat hidupnya. Setiap mentoring dia selalu mengeluh pada Kak Qibty mengenai apa yang sudah ia alami selama tiga bulan belakangan ini. Ya. Sudah tiga bulan berlalu cerita berakhirnya hubungan Anissa dengan Theo berakhir. Sudah tiga bulan pula Theo menghilang tanpa kabar sedikitpun.

Sempat ingin Anissa menghubungi Theo, tapi dia takut perasaan ketidakrelaannya harus terbuka kembali. Anissa hanya takut hatinya kembali tertarik oleh magnet pesona dan kesantunan Theo lagi. Itu saja, lantas Anissa memilih untuk melarikan diri daripada harus terjebak oleh tantangan prinsipnya.

****

Jum'at pukul empat sore sepulangnya dari kampus, Anissa mendapati mobil ayah Theo yang didalamnya terdapat salib itu memarkir tenang dipelataran rumahnya. Keningnya mengkerut dan semakin mengkerut ketika langkahnya mendekat ke rumahnya.

" Assalamualaikum. "

" Waalaikumsalam.. Anissa..kita kedatangan tamu. Coba lihat siapa yang datang.. "

Dalam bibir pintu menuju ruang tamu Anissa menatap tanpa ekspresi kedatangan keluarga Theo yang sedang dijamu hangat oleh Ayah dan Ibu Anissa.

" Sini, nak..duduk samping Ibu. "

" Ini ada apa, Bu? kok ada Theo sama keluarganya? "

" Selamat sore, Anissa.. maaf, kedatangan kami sekeluarga bermaksud ingin mempertemukan anak kami Ahmad Yusuf Pusomah dengan kamu. Dia bermaksud untuk melamar kamu segera. "

" Hah?? Ahmad Yusuf Pusomah ?? anak kami?? melamar kamu?? Maaf Om, saya kurang mengerti perkataan Om itu apa. "

" Theodoron Cornelius Pusomah yang kini telah menjadi Ahmad Yusuf Pusomah berniat ingin melamar kamu. "

Mata Anissa manganga, nafasnya tertahan saat mengeluarkan nafas pendek, mulutnya setengah terbuka dan tubuhnya mendadak kaku tak bergerak sama sekali ketika Ayah Theo berkata lancar seperti itu.

" Ayahku memang pendeta dan tatep menjadi pendeta. Keluargaku memang Christian Advenist. Tapi, aku..sebentar lagi akan menikahimu secara Akad. Aku muslim sekarang. Keluargaku telah izinkanku untuk menganut keyakinan yang sama denganmu, muslim. Anissa Nurul Ayu Binti Hj. Abdul Maftuhah hari ini saya Ahmad Yusuf Pusomah Bin Agustinus Felix Pusomah berniat untuk melamarmu atas izin kedua orangtuamu dihari ulangtahun ke-20 mu hari ini. Sudikah kamu jika aku menjadi imammu kelak?? "

Anissa yang sedari tadi masih kurang yakin dengan kejadian yang sedang dia alaminya itu, kini harus merasakan bagaimana rasanya tertembak mati oleh perkataan pemuda yang ia kenal dengan nama Theodoron Cornelius Pusomah bukan Ahmad Yusuf Pusomah tersebut.

Anissa angkat bicara, bukan menjawab pertanyaan Theo tapi menyuruh Theo yang kini Ahmad Yusuf untuk membaca kalimat syahadat sebanyak tiga kali secara lantang didepannya untuk bukti bahwa ia benar-benar sudah menjadi seorang Ahmad Yusuf, bukan Theodoron lagi. Theo pun menyanggupi, membaca syahadat dengan lantang dan lancar, membuat air mata Anissa terjatuh dan berkata...

" Aku bersedia menjadikanmu sebagai imamku, Ahmad Yusuf Bin Agustinus Felix Pusomah. "

" Anissa Nurul Ayu Binti Hj. Abdul Maftuhah.. saya Ahmad Yusuf Pusomah cinta kamu atas nama ALLAH, Tuhanku. "

****

Tuhan telah siapkan jodoh kita secara rahasia, tanpa kita tahu dan kira. Kalau kita mencintai seseorang karenaNya dengan keikhlasan, insyALLAH Tuhan mendengar apa yang kita inginkan perihal jodoh kita kelak. Semoga kita dipertemukan dengan jodoh yang dapat mencintai kita atas nama ALLAH.

THE END

Pantai Cinta

Menderu..
Bersemangat ombak mencoba mengejar kita ditepi pantai..
Kekuatan berlari kita masih lebih kuat untk selamatkan diri,rupanya..

Tak terbendungi hati dtaman bunga kala itu..
Ditemani lembayung halus dsenja hari bermata sayu..
Aku terpejam dlm pelukanmu..
Kita rasakan ombak berhasil mencumbui bibir baju yg kita kenai..

Apa itu?
Pantai cinta namanya..

Pantai berpenghuni hanya aku dan kamu, berdua saja..

Elok rupanya..
Biru sejukkan mata yg terpejam dalam pelukan asmaramu..
Tak ingin ku lepas tubuh dan lidahmu ketika itu..
pekat dan semakin dalam..

Kini..
Hanya awan tak beraturan menyambut senja menjelang malam dengan mendung..
Ombak seakan marah..
Melihat pesisir tak seindah ketika itu..

Apa itu?
Pantai cinta namanya..

Dia kering,usang,dan kelabu..
Awannya mendung, bergejolak..
Rindukan roman-roman yang sempat menyurgainya..

Tunggu aku,ombak..
Aku datang mengundangmu untuk bergemuruh mengejarku kembali..
Tunggu aku..
Laki-laki ku belum datang tuk menjemput..

rasakan panggilan hatiku..
dan kau kan datang tuk menjemputku, segera!
Aku tunggu,laki-laki..


posted by : Rianne Luna Moonfang
April 2010

You Know That I Love You (dedicated for my beloved Daddy) part "kematian"

Cerita kedua ini membahas kematian.
semoga teman-teman bisa menjadi aku dalam cerita disini, agar lebih merasakan bagaimana perasaanku saat itu (T.T) slamat membaca.

***
Dengan sore yang berbeda, masih dalam perjalanan pulang seperti biasanya. Kali itu Papap benar-benar menegur hatiku, mengingatkanku akan sesuatu yang aku belum siap sama sekali karena ketipisan iman dan takwaku yang belum sampai klimaks garis aman untuk tiket masuk surga nanti.

" Kenapa, Pap?? "

" Lagi merasakan tanda-tanda. "

" Hah?? maksudnya?? "

" Mmmmmm...Papap pernah cerita gak sama kamu tentang sahabat Rasul?? "

" Sahabat Rasul, Pap?? siapa?? Abu Bakar Sidiq?? "

" Bukan Abu Bakar, tapi ada lagi sahabat Rasul yang sangat dekat sekali dengan malaikat Izrail si pencabut nyawa. Saking dekatnya dia sama malaikat Izrail, dia sampai meminta malaikat Izrail buat memberitahukan sahabat Rasul kalau ia akan mencabut nyawa beliau. "

" Waw! Aku jadi pengen tahu kapan kematian jemput aku, Pap. "

" Izrail pasti memberitahumu, nanti! Itu Pasti, Nak! "

" Pasti lewat mimpi, hmmmmmmm "

" Itu salah satunya. Tapi, tanpa kamu sadari sebetulnya Izrail memberitahu manusia kalau mereka sebentar lagi akan Izrail jemput. "

" Lewat apa, Pap?? "

" BERKACA, nak! "

" Hah?? oh..kerutan muka ya?? "

" Sahabat Rasul itu semasa hidupnya dia sering berkaca, apa lagi menjelang usianya kepala empat, lima, dan enam. Suatu waktu, saat Izrail datang menghampiri sahabat Rasul untuk menjemput nyawanya, Izrail melihat sahabat Rasul sedang bercermin memperhatikan uban-uban dirambutnya yang semakin banyak, dan ia berkata (rambutku memutih, dan semakin banyak.) Lalu Izrail pergi tanpa menyabut nyawanya. Beberapa waktu kemudian Izrail menghampiri sahabat Rasul lagi, kali itu dia mendapat sahabat Rasul yang sedang berkaca menggoyang-goyangkan giginya yang akan tanggal. Tanpa berkata apa-apa, Izrailpun pergi dan gagal untuk menjemput sahabat Rasul. "

" Kok gitu?? Izrail mau ngasih tahu ke sahabat Rasul kalau ia akan dicabut nyawanya ya?? tapi gagal terus ya, Pap?? "

" Izrail memberitahu tanda-tandanya, nak! Ketika Izrail datang kembali menghampiri sahabat Rasul, sahabat Rasul yang sedang tertidur sendiri di kamarnya melihat kedatangan Izrail dan ia heran dengan kedatangannya, oh mungkin untuk memberi tanda bahwa sebentar lagi ia akan dicabut nyawanya oleh Izrail, tapi Izrail malah berkata (aku akan mencabut nyawamu sekarang.) Sahabat Rasul kaget, ia berfikir bahwa Izrail tidak menepati janjinya untuk memberitahukan terlebih dahulu kalau ia akan dicabut nyawanya, tapi Izrail berhasil menyadarkan sahabat Rasul dengan perkataannya (aku telah memberitahumu lewat semua tanda-tanda yang kau lihat sendiri ketika kau berkaca, dan sekaranglah waktunya aku menjemputmu untuk menghadap ALLAH). "

" SubhanALLAH ! aku semakin mengerti teka teki ALLAH, Pap. "

" Ya..makanya, kamu harus pintar-pintar jalani hidup kamu secara mandiri dengan mencintai ALLAH. Karena Papap gak mungkin jagain kamu terus. Izrail sudah memberikan tanda-tanda "itu" sama Papap sekarang. Uban yang semakin banyak, kerutan yang semakin muncul, dan gigi yang udah mulai mau tanggal. "

" Tapi, aku mau Papap lihat aku sarjana dulu. Aku pengin Papap lihat aku nikah dulu, punya anak kayak teteh, Alco, sama Aldo dulu, Papap harus lihat aku sukses dulu, baru Papap boleh dijemput sama Izrail."

" Takdir siapa yang tahu, neng? Papap cuma ingin mengingatkan kamu tentang kematian. Siap tidak siap kalau ALLAH sudah bicara "itu", kita harus siap dengan amalan seadanya. Makanya jangan tinggalin ibadah. Jangan nunggu uban, kerutan sama gigi kamu mulai berubah dulu, siapkan amalan kamu dari sekarang. Bersyukur kalau ada yang membenci kamu, mereka bisa bantu hapus dosa-dosa kecil kamu, selebihnya dosa besar kamu harus giat-giat untuk menghapusnya. Kelak Papap akan melihatmu seperti Izrail melihat sahabat Rasul yang sedang bercermin. Jadilah anak yang sholeh, nak! Jangan mau dibelenggu sama dunia. "

>>>>>>>

6 April 2010 00:15

Dalam sujud di awal usiaku, aku meminta panjangkan usiaku, keluargaku, terutama Papap. Dia alasanku untuk bersyukur juga..bersyukur karena mempunyai ayah yang hebat seperti dia, yang dapat menyadarkanku banyak hal tentang dunia dan akhirat dan ayah yang selalu ingin melihat anaknya bahagia dengan kerja kerasnya sendiri.
(ayah dengarlah..betapa sesungguhnya ku mencintaimu..kan kubuktikan..ku mampu penuhi maumu -ADA band&Gita Gutawa-)

aku sayang Papap karena ALLAH
T.T

***
THE END

You Know That I Love You (dedicated for my beloved Daddy) part "awan mendung"

Didedikasikan untuk Papapku tersayang (Doddy Rasyidi).
Ini obrolan singkat kami berdua selama perjalanan dari rumah menuju kantor-dari kantor menuju rumah.
Slamat membaca! Semoga dapat memetik hal positive didalamnya. ALLAH bless us. :)



Siang itu, aku kuliah sampai jam dua belas saja. Itu artinya masih ada empat jam lagi menuju pukul empat. Waktu yang menunjukkan jam pulang kantor papap. Akupun memutuskan untuk mencari kegiatan di kampus, entah itu hanya makan dan nongkrong-nongkrong dengan teman dekatku sampai tiga puluh menit menuju pukul empat sore.

Waktu berputar cepat, bahkan sangat cepat. Larut dalam obrolan curahan hati tentang BAB introspeksiku dengan teman dekatku itu. Kami saling berpamit pulang dengan arah yang berbeda. Hingga kakiku melangkah menuju kantor perkebunan di kawasan Sindang Sirna Bandung. Ya! Itu kantor Papap. Tak lama berpapasan dan bertukar senyum dengan satpam kantor, akupun langsung menghampiri ruangan Papap yang ku intip sedang mengadakan meeting kecil dengan atasan barunya. Kunci mobilnya aku ambil, dan aku titipkan pesan kepada rekan kerja Papap, bahwa aku sudah menunggu di dalam mobil untuk pulang.

Lima belas menit aku menghabiskan waktu untuk membuka Twitter dengan headset ditelinga..sesekali melihat kondisi facebook kalau-kalau ada pemberitahuan sesuatu. Papappun datang mendekat membawa tas kerjanya untuk pulang bersamaku saat itu, dan pembicaraanpun dimulai..

*pembicaraan pertama*

" Kamu lihat awan itu, neng?? "
Papap menunjuk keatas arah jam dua belas, membuatku sedikit bangkit dari senderan kursiku dan menengadah bingung dengan awan yang sedang kulihat.

" Kenapa, Pap?? "

" Kamu tahu..dari awan itu, kamu bisa sadar akan satu hal??? "

" Apa?? "

" BERSYUKUR ! "

" Hah?? apa hubungannyaa, Pap?? "

" Coba lihat sekali lagi awan mendung itu?? Kalau kamu bisa sadar sama apa yang Papap bilang, berarti kamu memang pantas mendapatkan point 20 di usia kamu tahun ini.."

Aku memang bukan anak pintar yang seperti kamu mau, Pap. Keterbatasan berfikirku sangat rendah. Tidak terlalu tepat dalam mendeskripsikan sesuatu, apa lagi disuruh menebak dari hal yang menurut aku itu sulit.

" Pap, aku gak ngerti.. apa hubungannya awan dengan bersyukur yang Papap maksud. Jelasin! Aku pengin tahu. "

Sambil santai menyetir, dan muka yang sangat lusuh Papap menjawab dengan nada pelan dan jelas..

" SubhanALLAH, nak.. ALLAH bisa buat awan mendung jadi pindah-pindah.. tadi kamu bilang, di kampus kamu sudah mulai hujan, tapi di kantor Papap?? jarak yang terbilang dekat dengan kampus kamu, kondisinya masih kering tanpa hujan.. "

" Yah..terus hubungannya apa, Pap?? Masih kurang mudeng akunya.. "

" Kamu tahu kan.. ALLAH gak cuma bisa bikin awan mendung jadi pindah-pindah posisi, tapi ALLAH bisa lakukan apa saja untuk semua ciptaannya.. Kamu tahu cerita hujan membawa berkah?? Kalau ia hujan bisa membawa berkah, kenapa saat kiriman hujan datang lebih, manusia malah protes bukannya bersyukur?? "

" Karena hujan membuat bencana alam, Pap. Siapa juga yang mau rumahnya kebanjiran?? "

" Kamu yakin semua orang punya rumah?? " (Aku menggeleng perlahan dan tersenyum malu) Itu maksud dari omongan Papap tadi. Kamu harus selalu bersyukur dengan apa yang kamu dapat sekarang. Tinggal di rumah, makan enak, pendidikan bisa tembus perguruan tinggi, dan punya fisik yang sempurna layaknya kamu jadi perempuan. "

" Alhamdulillah..makasih Pap. Oya, apa kalo kita dibenci orang kita juga patut buat bersyukur??kan gak adil ! Kita dapat kebencian orang, tapi kita masa harus terus bersyukur?? "

" Alhamdulillah.. ALLAH sayang sama kamu, Nak! Biar orang yang membencimu menghapus dosa-dosa kecilmu. Jangan pernah membenci mereka, meski mereka sangat benci sama kamu. Hati kamu boleh mendung seperti awan, tapi kamu harus tetap cerah di hadapan Papap, karena itu salah satu alasan kenapa Papap wajib untuk bersyukur. "

" Daddy I Love You So Much.. ALLAH bless u.. :) "

***
CERITA 1 SELESAI.
CERITA 2 (Tentang Pembicaraan Kematian

5x4 = 20 (Kejadian tanggal 5 - bulan 4 - pukul 20.20)

( BASED ON TRUE STORY )

Pulang menunaikan kewajiban sebagai mahasiswa, kondisi badan menunjukkan kondisi yang kurang mendukung untuk tetap semangat. Akupun memilih untuk tertidur, karena merasa kurang tidur sejak long weekend kemarin. Setelah sebelumnya aku menulis 20 resolusi untuk usiaku yang masuk kepala 2 esok hari. Titik. Aku simpan balpoint dan kertas di meja belajar, lalu bergegas tidur tanpa melepas seragam bawah saya.

Terlihat Papa menggunakan jubah putih dan kopiahnya membangunkan tidur dengan suara pelan disudut pintu kamarku.

"Sholat!"

Akupun terbangun lantas mengambil air wudhu dan mengenakan mukena. Aku melihat jam dinding kamarku menunjukkan pukul tiga sore.
"Aku harus sholat apa??keduanya empat rakaat. Dzuhur sudah. Asharpun belum masuk."
Kebingungan aku terdiam diatas sajadah merahku, sesekali melihat kembali ke arah jam dinding, dan *beep2x* ponselku berbunyi.

"Anne.. kamu bisa ke kantor? kita lagi casting buat program baru, tapi gak ada yang cocok. Kayaknya kamu cocok bawain acaranya. Besok kita taping. Ditunggu jam 1siang di studio tiga ya. (Idan)"

Aku tersenyum membaca pesan singkat yang datang dari produser tempat kerjaku dulu. Wow! Akhirnya, tawaran presenter itu datang lagi. terima kasih Tuhan. Belum kesenangan itu selesai, datang satu pesan lagi dari Dadan (teman kampusku sekaligus owner travel tempat kerja freelanceku sekarang)

"Neu..bantu saya sekarang di kantor. Saya diserang orang yang butuh jasa travel kita. Bulan sekarang kita kebanjiran order paket tour sampai tiga bulan ke depan. Tolong datang secepatnya. Saya butuh bantuan kamu sekarang. Thx."

Subhanallah..hatiku bertasbih, bibirku kembali tersenyum. Akhirnya travel baru aku dan teman-temanku kebanjiran orderan. Terima kasih ALLAH.

>>>>>

Dalam perjalanan menuju kantor travel, aku hampir tertabrak Camry saat hendak menyebrang untuk menunggu angkot kearah kantor travel.
Aku melihat Camry itu merapat, pintu kemudi terbuka, dan tuannya menghampiriku dengan stelan kemeja salur biru muda dan dasi biru tua, rambut mohawk, dan tinggi sekitar 170cm. Kelihatannya usianya lima tahun lebih tua dariku.

"Maaf, kamu tidak apa-apa?"

Wah! Lelaki tampan itu mengkhawatirkanku. Mungkin dia fikir, aku telah tertabrak olehnya, padahal???

"Gak apa-apa kok, mas."

Aku tersenyum malu, tak berani melihat matanya yang sedari tadi melihat kearahku.
Tetap merasa berdosa, lelaki yang ternyata bernama Osvaldo itu mengantarkan kemana aku akan pergi. Disitulah aku mengenalnya. Ternyata dia anak komisaris kantor papaku yang bekerja sebagai Marketing Manajer di salah satu hotel bintang lima di daerah Bandung.
WAW ! ! ! Camry hitamnya sudah sampai didepan kantor travelku, pembicaraan terhenti, dan tuan tampanpun tersenyum kembali, lalu pergi.

>>>>>>

Di dalam kantor, aku sudah diseret oleh Dadan untuk segera masuk dan membantu menangani klien yang masih menunggu pelayanan travel kami, sementara teman-teman kantor lainnya sibuk dengan layanan by:phone mereka.

Dalam hati, aku berkata "aku akan segera membeli macbook dengan uangku sendiri, kalau begini caranya. Thanks GOD! Kali ini kita untung besar!"

>>>>>>>

Stasiun TV Lokal Bandung dipenuhi banyak orang dengan berbagai macam dandanan dan style mereka masing-masing. Tidak aneh, dari kemarin kata Om Idan kan disini sedang ada casting untuk presenter beberapa program baru mereka. Tanpa fikir panjang, akupun langsung menaiki anak demi anak tangga menuju studio tiga untuk taping program baru. Semua berjalan lancar meski harus mengalami beberapa re-take untuk hasil yang memuaskan dalam tayangan perdananya.
Seusai taping, saya melihat Ki Daus sedang duduk di kursi ruang editing bersama seorang laki-laki seumuran Om Idan. Karena lama tidak bertemu, sayapun menghampiri Ki Daus dan menyapanya. Oh! ternyata laki-laki itu adalah Joko Anwar (seorang sutradara kawakan nasional). Yang membuat aku heran, ternyata Joko Anwar telah mengetahui siapa aku. Hmmmmm.. Ki Daus rupanya banyak cerita tentangku kepada dia.

"Beruntung sekali saya bertemu dengan kamu. Kapan kita bisa bicara??"

Aku heran dengan apa yang sedang Joko Anwar bicarakan.

"Maaf, bicara apa ya??"

Panjang lebar dia menjelaskan sesuatu yang membuat mataku terus melotot menganga tak percaya. Ya Tuhan ! tampar pipiku ! ! ! ! Apa benar apa yang aku dengar?? Dia menarawiku peran dalam proyek film barunya yang melibatkan Dian Sastrowardoyo juga??? Unbelievable !
Saking senangnya, aku sampai jingkrak-jingkrak dan berteriak hingga Papa membuka pintu kamarku dengan panik dan...mataku terbuka...

"Bangun! Beliin Listerin ke mini market ya!"

Dengan malas kerana merasa belum menemukan nyawa, akupun terbangun. Masih berharap yang baru aku alami semua itu BUKAN hanya mimpi. Hingga ku nyalakan matic untuk aku keluarkan dari gerasi dalam rumah.
Subhanallah ! ! ! Tidak menyesal aku tengadah melihat langit. Panggung teaternya sudah ramai oleh bintang sisa hujan besar tadi. Berharap dapat memetiknya untuk mewujudkan satu mimpi utamaku yang belum sempat aku lihat adegannya dalam tidur tadi.

"YA ALLAH.. jika ke lima mimpi itu hanya hidup dalam mimpi siang bolong yang membuatku empat kali lipat lebih "excited" dari teriakanku tadi. Tolong wujudkan satu mimpi utamaku yang belum sempat terrekam dalam mimpiku tadi, esok ketika tepat usiaku berkurang menjadi kepala dua. Amien."

THE END
***

05 April 2010 pukul 20.20.
Fadjar Raya-Cimahi

FORBIDDEN VIRUS part akhir ( THE REAL STORY )

FORBIDDEN VIRUS part akhir
( THE REAL STORY )

By : Rianne

Cerita 2 ini saya untuk kembali menegur hati siapa saja yang merasa mempunyai kisah serupa atau hampir serupa dengan ini. Semoga kalian mendapat pesan moral yang saya sampaikan lewat tulisan ini.
Buat yang kurang mengerti dengan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, baca dulu yang part awalnya ya.
Selamat membaca. :)

Kisah ini saya dengar langsung dari "Jemima" saat kita dalam perjalanan pulang dari kampus. Siang itu, saat Jemima selesai menceritakan Putria yang diam-diam menyimpan hati pada Jemima, tak sadar Jemima menyinggung "Bella" teman SMA kami juga yang sudah ditularkan virus "ini" sejak kami kelas satu SMA kemarin.

Bella yang saya kenal sebagai wanita yang mendominasi feminim ini, mulanya baik-baik saja. Kecintaannya pada kaum pria, ia tunjukkan dengan jalinan kasihnya dengan seorang pria sepantar, namun berbeda sekolah dengan kami. Ya! Dia normal (dulu), hingga suatu ketika Jemima merasa tertarik pada Bella, dan mengungkapkan isi hatinya secara frontal dan pribadi. Secara langsung dan tak Bella sadar, Jemima telah menularkan "forbidden virus" pada Bella kala itu. Entah bagaimana percis ceritanya, yang saya tahu sekarang bahwa kala itu mereka membuat status "sepasang kekasih".
Ini kali pertama Bella mempunyai kekasih sesama jenis. Perasaannya terhadap lawan jenispun, kelamaan meluntur seiring dengan perasaannya yang mendominasi pada Jem. Ini terbukti ketika Jem tidak sengaja menitip salam kepada "Dinda" teman sekelas Bella. Bella terbakar api cemburu, namun masih dalam batas yang sangat wajar sebagai kekasih yang tak wajar itu.

Saat itu, Bella mulai merubah penampilannya menjadi wanita yang tomboy..
ya.. perlahan hingga melebihi gaya Jem, saat saya iseng memperhatikan.

Saat kelas tiga SMA dulu, saya sempat mampir ke tempat kost dia yang tak jauh dari tempat tinggal saya. Sekolahnya berantakan, hidupnya semraut, dan teman-temannya?? sudah bisa ditebak seperti apa.
Dia pernah bilang pada saya, kalau dia sekarang bergaul dengan orang-orang baru dalam hidupnya. Tempat nongkrongnya di mini market yang buka 24 jam di daerah kawasan pusat kota Bandung, sesekali nongkrong di salah satu Jang Food di mall setempat. Katanya sih, kalau malam disitulah "mereka" bersarang menebar "virus".

Suat hari, Bella datang ke rumah saya bersama teman "serupa" gaya dengannya untuk menawarkan DVD yang mereka jual. Sempat sayapun keliru, saya kira itu laki-laki, eh..gak tahunya "wanita jadi-jadian". Di rumah "wanita jadi-jadian" itulah saat itu, Bella tinggal.
Tempat tinggalnya dipenuhi banyak kekeliruan. Membuat saya beberapa kali harus tertipu dengan "kelamin mereka" yang tak lain serupa dengan saya.
Beberapa diantaranya memajang foto mesra mereka di dinding kamar 3mx5m itu. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala dan beristigfar dalam hati berkali-kali dengan penglihatan saya kala itu.
Sejak saat itu, tidak pernah saya dengar kabar lagi mengenai Bella hingga akhirnya Facebook mempertemukan kami lagi.
Lagi-lagi saya keliru dan semakin keliru. Ya ALLAH ! ! ! itu laki-laki atau perempuan?? Saya perhatikan baik-baik ternyata itu Bella teman SMAku dulu yang pertama kali saya kenal sebagai orang layaknya kodrat yang ALLAH berikan untuk dia, tidak menyerupai "siluman jadi-jadian" seperti ini.

Karena penasaran, sayapun iseng melihat foto yang ada di album Facebook dia, dan WOW ! ! ! ! banyak sekali foto mesra dia bersama seorang wanita yang terpampang lepas dan bebas di jejaring sosial ini.. (unbelievable!), memang setelahnya saya bisa simpulkan bahwa virus yang dulu Jemima tularkan ke dia sudah menyandang predikat "AKUT" atau mungkin "stadium akhir".

Kabar terakhir saya dengar dari Jemima saat kami pulang kuliah beberapa hari yang lalu, ternyata wanita yang berfoto mesra itu adalah kekasih Bey yang sudah dia pacari dari tahun lalu. Sebut saja "Tante Jenifer", yang tak lain adalah atasan Bey di restoran tempat kerjanya di pulau Nyepi tersebut. Bey bercerita pada Jem saat Jem mampir ke kostannya yang di Bandung bersama Putria beberapa pekan yang lalu. Disitu Bey membuka identitas "sang pacar" kepada Jem secara pribadi, berdua saja.

Tante Jenifer yang merupakan owner yang merangkap sebagai manajer Bey itu, ternyata tertarik pada Bey yang saat itu berstatus LAJANG, karena sama-sama butuh (butuh kebutuhan biologis dan butuh kebutuhan material) akhirnya Bey menerima cinta Tante Jenifer yang membantu segala kebutuhan yang Bey butuhkan selama mereka pacaran hingga SEKARANG!

Dengar-dengar sih, Tente Jenifer mempunyai tiga orang anak. Ketiganya masih sangat kecil-kecil dan diurus oleh Ibu Tante Jenifer hingga sekarang. Sedang ibu dari anak-anaknya??hmmmmmm sedang menikmati indahnya duniawi bersama "rekan biologisnya" yang jauh lebih muda dan "sama" bentuknya.
Sejauh ini, menurut Jem mereka sudah hidup layaknya pasangan suami istri pada hakekatnya. Mengatur hidup berdua dalam satu atap, melakukan "hubungan suami istri" sesuai undangan nafsu birahi hingga tak kenal malu berbagi jepretan demi jepretan gambar dalam situs jejaring sosial Facebook. Ya..Namun saya sedikit bingung saja..mana istri??mana suami??mana yang memberi nafkah?? mana yang melayani??Itu urusan mereka.
Dariku, satu saja.. semoga mereka disadarkan Tuhan mereka, betapa dekatnya kiamat akan datang. Semoga yang merasa dapat merubah haluan jalannya kembali lurus sesuai kodrat mereka masing-masing.



*pesan moral yang saya ambil disini adalah*

selama masih ada lawan jenis yang mau dengan kita, kenapa harus dengan yang sesama jenis??,

selama kita sadar "itu" salah, apa salahnya kita mengingatkan pada "mereka'meraka" kalau itu salah dan menyalahi kodrat mereka.

kita doakan saja, semoga "mereka-mereka" siapapun itu yang mempunyai cerita serupa, dapat diluruskan kembali jalannya, disadarkan dan diampuni dosa-dosanya.Amien.


(sebetulnya, setelah saya posting yang part awal..cerita2 serupa datang lagi pada saya, tapi saya tidak akan mempublish lebih banyak lagi untuk menjaga ke-privacy-an orang-orang tersebut).

thx udah baca :)

cerita ini, selesai.