Jumat, 13 Juli 2012

MIMPI


MIMPI
Sedari kecil selalu diberi pengertian bahwa mimpi adalah bunga tidur. Cukup! Hanya sebuah bunga tidur. Semakin besar semakin ingin tahu apa itu mimpi? Tentunya bukan hanya sekedar jawaban “bunga tidur” yang aku inginkan.
Sempat mempertanyakan tentang mimpi ke sebuah ustadz guru mengajiku, pencerahan! Katanya terdapat dua kategori mimpi. Mimpi yang datangnya dari setan, dan mimpi pertanda. Mimpi yang datangnya dari setan adalah mimpi yang kita alami hanya satu kali alur cerita, datangnya setelah waktu subuh dan waktu sore hari saat kita tidur siang, dan mimpi pertanda adalah mimpi yang berkali-kali dengan alur yang nyaris sama atau objek yang selalu sama, misalnya si X yang selama beberapa hari selalu hadir dalam mimpi kita meski cerita dalam mimpinya selalu berbeda. Itu yang sering aku alami dalam kurun waktu satu minggu ini.
Seorang pria yang sering ku lihat selama kurang lebih empat tahun di kampus tidak pernah absen sekalipun dalam mimpi setiap tidurku dalam seminggu ini. Namanya Arca, terakhir bertemu saat wisuda satu bulan lalu. Selama empat tahun berteman, tak sedikitpun berteman rapat. Intensitas kami berteman hanya sebatas kawan senat saja, setelah itu tidak pernah ada komunikasi berlebih selama bersama dalam satu payung organisasi universitas. Sempat bertukar pin blackberry saat wisuda bulan lalu, itupun tak pernah sedikitpun komunikasi yang menyengaja, kecuali memang ada perlu yang mendesak.
Malam satu, hari Minggu Arca tiba-tiba hadir dalam mimpi tanpa disengaja. Dalam mimpinya kami berdua sedang makan siang bersama di kantin fakultas, saling berhadapan dan sedikit sanda gurau ringan. Adzan subuh menyelesaikan mimpi malam itu. Terasa pelik saat bangun tidur lepas subuh.
“ Kenapa tiba-tiba aku mimpi Arca yah? ”
Berfikir masa bodoh tentang mimpi semalam, karena aku yakin itu hanya bunga mimpi tanpa isyarat. Masuk malam dua, senin malam. Sama sekali tidak memikirkan Arca sesaat sebelum tidur, bahkan otak rasa sudah cukup penat dengan sisa lembur yang masih menyisa hingga malam hari detik-detik mata terpejam. Mimpi dimulai, Arca datang kembali..kali ini alurnya berbeda. Aku melihat Arca disebuah restoran Jepang, dia bekerja sebagai waiter disana merangkap greeter (seorang yang menyambut tamu)
“ Irasaimaseeee!! ”
Arca menyambutku masuk seorang diri di daun pintu masuk restoran, lantas mengantarku ke meja kosong. Arca nampak masih mengenaliku baik, menanyakan kabar untuk basa basi sampai akhirnya makanan tiba, percakapan terhenti sementara. Dalam mimpi, ketika aku akan membayar makanan yang aku pesan, nampak Arca dibalik counter sedang memegang ponsel siaga kamera.
“ Ngapain, Ca? “
“ Aku mau foto kamu “
Dalam alur ceritanya, aku menutup muka tanda kurang setuju untuk difoto, namun ada yang janggal disini..aku malah mengajak Arca untuk foto bersama ditangga penghubung ke lantai dua.
“ Kalo mau, foto bareng aja..gak usah motoin aku gitu..ditangga yuk? “
Kamipun berfoto berdua, nampak rapat seperti sepasang dengan hubungan istimewa. Mimpi kedua selesai, adzan subuh memutuskan alur cerita malam itu. Semakin merasa aneh, namun berusaha untuk tidak memikirkan mimpi yang lebih dari dua kali hadir berurutan.
Malam tiga, Selasa. Sebelum tidur, aku menonton FTV remaja yang disiarkan di salah satu stasiun televisi swasta karena santainya waktu tanpa harus melembur pekerjaan sebelum tidur. Ya! FTV tersebut mengantarkan aku terlelap membuka mimpi baru. Alur baru, dengan orang yang sama..Arca kembali mengisi mimpi malam ketiga. Malam itu ceritanya kami ada dalam rumah yang sama, memasak mie instant bersama untuk kami berdua, menikmati makanan instant tersebut sembari menonton acara komedi di televisi. Entah apa maksudnya, dalam mimpi tersebut kami nampak sangat akrab, seperti pasangan muda baru yang masih menikmati waktu lajang tanpa ramainya anak-anak. Mimpi itu usai dengan sendirinya, bukan dengan adzan subuh, tapi menyengaja membuka mata untuk menyempatkan tahajud.
Ya Allah..kalau memang apa yang aku dengar dari ustadz ku dulu itu mengenai mimpi yang berulang itu benar..tunjukkan pertanda apa yang ingin Kau berikan untuk hamba secepatnya, amien
Seselasainya tahajud, aku sempat tertidur sampai waktu subuh membangunkan. Ajaibnya, dalam waktu singkat tersebutpun aku masih menyempatkan diri untuk bermimpi, Arca kembali. Kali ini mimpinya sangat singkat, mungkin kalau film hanya ada satu sceen saja, kami duduk di taman bersebelahan, lantas saling menatap lalu tersenyum, mimpi selesai. Subuh aku jalani dengan raut bingung.
Malam empat, Rabu. Kegiatan serupa dengan malam satu, sebelum memutuskan untuk tidur, aku menyempatkan diri untuk menyelesaikan pekerjaanku untuk esok pagi, sama sekali tidak terfikir Arca saat menjelang tidur, dan mimpipun dimulai. Dalam mimpi malam itu, Arca berada bersama atasanku di kantor, memakai seragam kantorku seolah dia memang karyawan yang sama denganku. Dalam mimpinya, aku habis masa kerja dan akan pamit pulang pada atasan yang saat itu berada bersama Arca diruangannya.
“ Gak cipika cipiki dulu sama aku? “
Wajahku mendadak pucat pasi ketika Arca berkata seperti itu, ditambah reaksi atasanku yang tertawa ringan nada meledek. Anehnya, aku hampiri Arca lantas mencium kedua pipinya. Cerita tak habis sampai disitu, ketika aku beranjak pamit, Arca menaham tanganku, menarikku untuk mendekat lalu mengecup kening dan bibirku.
“ Hati-hati ya “
Aku terbangun, dan bukan oleh adzan subuh lagi. Keringat dingin mengantarkan waktu pada pukul empat dini hari, aku putuskan untuk mengambil wudhu, menyempatkan tahajud sambil menunggu waktu subuh tiba.
Hari kelima, Kamis. Sebelum malam tiba dan mengantarkanku untuk istirahat, aku menyengaja untuk cek bbm milik Arca yang nampak kurang menunjukkan aktivitasnya di bbm, sesekali aku dapati ia mengganti fotonya tanpa menulis personal message, hanya status Sibuk yang setiap saat aku lihat, yah..sesekali personal message nya terisi oleh beberapa kata entah itu “mengantuk”, hanya emotic senyum atau bahkan kata yang mendeskripsikan bahwa ia sedang bekerja. Tidak ada yang aneh, tidak ada basa-basi, dan tidak ada komunikasi. Malam lima pun tiba, luangnya waktu sebelum istirahat membuat aku ingin menulis beberapa kalimat berhastag #mimpi dalam twitterku.
Twit 1 : Kata ustadzku, mimpi terbagi 2, ada yang datangnya dari setan (hanya sekali mimpi) dan ada yang merupakan pertanda (mimpinya berkali-kali)
Twit 2 : Dalam #mimpi, aku mencium pipi kanan kirimu, tapi kamu membalas mencium keningku dan mengecup bibirku saat aku pamit pulang, maksudnya?
Twit 3 : Apa maksud #mimpi hampir seminggu ini?kamu selalu hadir buat alur cerita, tanpa aku perintah. Padahal aku gak mernah mikirin kamu loh!
Twit 4  : Malam ini aku mencoba memikirkan kamu, biar kamu gak hadir jadi pertanda yang masih tanda tanya sampai malam ini. Selamat malam.
Yah..seperti apa yang aku tulis dalam twitter terakhir, malam kelima ini aku mencoba menyengaja memikirkan Arca. Mencoba membuat perbandingan dengan malam-malam sebelumnya yang tidak tersirat sedikitpun untuk memikirkan Arca sebelum tidur, yang kenyataannya malah selalu hadir setiap malam dalam mimpiku. Apa yang terjadi kalau aku memikirkan Arca malam ini? Aku akan tarik kesimpulan, kalau memang Arca masih ada dalam mimpi malam kelima ini, berarti itu sebuah pertanda, kalau tidak hadir aku simpulkan itu hanya sekedar mimpi kiriman setan saja.
Pagi datang, namun mimpi tak kunjung datang. Maksudnya apa? Malam kelima, disaat aku menyengaja memikirkan Arca sebelum tidur, ia malah tidak hadir dalam mimpi. Jangankan hadir dalam mimpi, bahkan bermimpipun aku rasa tidak.
Malam enam, Jumat. Aku cek kembali bbm Arca sengaja, aku simpulkan bahwa ia sedang sakit, nampak dari display picture dan personal message yang ia pasang hari itu.
“ Arca..lagi sakit yah? “
“ Ia.. L
“ Get well soon J
“ Thank you yah J
Selesai. Mati gaya dan habis akal untuk basa basi. Baiklah, bergegas tidur dan menyulam mimpi (kalau bermimpi). Malam enam, entah mungkin karena sebelumnya sempat komunikasi dengan Arca atau apalah..seingatku mimpi malam keenam yang aku ingat Arca memanggilku untuk datang kerumahnya. Arca mengirim chat lewat bbm, dia menyuruhku datang ke rumahnya untuk membantunya yang sedang sakit. Dalam mimpinya, ia tinggal seorang diri, tanpa orangtua atau bahkan adik kakak yang aku tidak pernah mengetahuinya. Mimpi selesai dipagi ketujuh, aku memutuskan untuk berkomunikasi kembali dengan Arca, membahas mimpi terakhir di malam enam. Mimpi yang menurutku sebuah kode kalau Arca yang entah dimana tempat tinggalnya sedang membutuhkan bantuan.
Benar ternyata, Arca sedang tergolek lemah di rumahnya seorang diri. Aku menyambangi rumah Arca yang ternyata hanya berbeda beberapa blok dari kosanku, baru tahu. Arca terjangkit demam berdarah, dia bilang sudah dua hari masuk tiga ia lemah tak bergerak namun kurasa sudah lebih dari itu, tak ada sedikitpun niatan  ke rumah sakit meski sempat aku tawari, padahal untuk makanpun merangkak mencari seadanya, ingin meminta bantuanpun tak tahu pada siapa. Ayah ibu tak kunjung bangkit untuk bernafas, kakak adik tak punya, sebatang kara gelarnya.
“ Thanks ya..udah mau bantu urusin aku “
“ It’s ok, Arca. Aku pulang dulu..kalo ada apa-apa, bbm aku aja yah J
Arca menggenggam tanganku, sama percis seperti adegan dalam salah satu mimpiku kemarin, yang beda aku tidak mencium pipi Arca begitupun adegan Arca terhadapku, tidak sama sekali terjadi. Arca hanya menatapku dalam bisu, sampai perkataan pamitku membangunkan tatapannya.
Ini malam ke tujuh, malam dimana siangnya aku benar-benar bertemu Arca dan berkomunikasi seadanya. Aku bukan seorang yang mahir menafsir mimpi, dari semua mimpiku selama enam hari hingga aku bertemu Arca, belum sepenuhnya tertafsir apa sebetulnya arti dari mimpi-mimpiku seminggu ini. Esok libur kerja, akankah mimpiku ikut mengambil cuti malam hari ini?
Sebelum tidur, aku sempatkan memeriksa recent update bbmku. Pukul 23:23 kurang lebih, Arca mengganti fotonya dengan foto ia sendiri yang belum pernah aku lihat sebelumnya, jauh lebih tampan dari Arca yang pernah aku lihat, dengan status bertulisan “ thanks J “.
Rasa heran berkecamuk dalam dada sesak ini, Arca datang mengetuk pintu kamar kosanku. Dia nampak sudah kuat berjalan, namun sedikit muka pucat. Ini pertama kalinya Arca menyambangi kosanku setelah empat tahun lebih kami saling tahu di kampus.
“ Udah sehat? “
Arca tak menjawab, ia hanya tersenyum. Aku tawari minum, ia hanya menggeleng sembari tak lepas tersenyum melihatku sedari tadi. Aku mencoba mengalihkan tatapanku terhadap Arca pada televisi yang sedari tadi ikut meramaikan sunyinya Arca. Arca yang sedari datang duduk disampingku, mencium pipiku lembut dan dingin, lalu melepasnya dalam hitungan beberapa detik.
“ Aku sayang kamu “
Arca mengatakan hal tersebut lantas pamit pulang, sedang aku masih tertagun heran tak berkata apa-apa. Allahuakbar Allaaaahuakbar!! Ah! Suara adzan membangunkanku. Ternyata adegan barusan hanya mimpi, yang ini paling nampak nyata dari mimpi-mimpi sebelumnya. Selepas subuh, aku mengirim bbm pada Arca, Arca tak menjawab, mungkin masih tertidur pulas.
Pagi itu aku berniat untuk mengontrol bagaimana kondisi Arca hari ini, bubur beserta makanan lainnyapun sudah aku siapkan untuk Arca. Setibanya aku dirumah Arca, tak sedikitpun nampak satu kehidupan. Oh mungkin Arca masih tertidur, dan benar saat aku berjalan menuju kamar tidurnya, Arca masih tertidur pulas sembari memeluk sebuah buku dan tasbih, hei..itu buku diary.
Aku sentuh tangan Arca, bermaksud untuk membangunkan ia yang masih terlelap tidur. Janggal, Arca terasa dingin, ya..sekujur tubuhnya dingin pasi. Aku goyangkan badan Arca, Arca tak kunjung bangun sedang aku panik sendiri dan tak sedikitpun mencoba mencari bantuan orang lain. Aku coba untuk dekatkan telunjukku pada hidung Arca, memastikan bahwa ia masih bernafas atau tidak, memegang nadi pergelangannya dan semua nihil. Arca sudah tak bernafas lagi, ia meninggal tanpa memakan apapun yang sempat aku simpan di meja samping tempat tidurnya.
Semua nampak hambar, ingin menangispun tak tahu. Entah angin apa yang membuatku tergerak untuk membaca isi diary Arca, toh meskipun sifatnya sangat privasi yang punyanya tidak akan marah karna sudah tak bernafas lagi. Mulutku menganga, butir sajak berbentuk cairan jatuh perlahan dari ujung pelupuk mataku. Diary itu..semua menceritakanku. Aku baca perlahan kata demi kata, kalimat hingga halaman, bahkan terdapat beberapa fotoku disitu sedari jaman kuliah hingga aku sekarang. Aku tak tahu menau mengenai diary dan semua isi-isinya, termasuk seluruh skenario yang Arca tulis setiap lembarnya tentangku, yang pasti dan tanpa aku sadar..apa yang aku mimpikan selama seminggu ini merupakan skenario yang Arca rancang salam diarynya.
Aku selalu membayangkan kita menikmati makan siang dikantin bersama selagi kita kuliah dulu. Aku selalu membayangkan kamu hadir ke restoran tempatku bekerja untuk sekedar menyantap snack ringan ala Jepang. Aku selalu membayangkan dapat mengabadikan gambar denganmu bagaimanapun itu posenya dimanapun itu tempatnya. Aku selalu membayangkan kita dapat tinggal satu rumah, bersanda gurai sambil menikmati acara televisi bersama di sofa ruang TV. Aku selalu membayangkan menghabiskan waktu berdua menikmati hijaunya taman dengan warna warni bunga. Aku selalu membayangkan dapat mencium keningmu dipagi saat pertama kamu mulai membuka mata. Aku selalu membayangkan kamu dapat mencium pipiku disaat aku mulai mengeluh menjalani hidup seorang diri. Aku selalu membayangkan aku dapat puas melihat wajahmu dengan senyuman paling ikhlas yang pernah aku kembangkan untuk seorang hawa. Aku selalu berharap kamu selalu memikirkanku sebagaimana setiap detik aku selalu memikirkanmu. Dan aku selalu berharap kalaupun aku harus mati, aku ingin mati dalam pelukanmu. 7 Juli 2012, 23:23 wib “
Aku melihat tanggal yang terpampang gamblang dalam ponselku, hari ini tanggal 8 Juli 2012, itu artinya tulisan yang aku baca telah Arca tulis semalam. Tepat semalam saat aku bermimpi Arca tersenyum menghampiriku lantas mencium pipiku tanda pamit.
Sehari itu aku sibuk mengurus pemakaman Arca bersama tetangga sekitar rumah Arca. Tak satupun dari keluarga Arca datang, karna memang tak ada satupun yang mengetahui kebedaraan keluarga Arca yang notabennya bukan orang asli Indonesia, namun Italy.
Seusainya pemakaman Arca, aku kembali ke kosanku, membawa buku diary Arca yang belum sempat aku baca semua halaman awalnya.
Ini hari minggu, hari kedelapan yang tepat bersama hari kesatu dimana aku mulai bermimpi tentang Arca. Melalui bukunya dihari ke delapan aku menafsir semua mimpi-mimpiku selama seminggu terakhir, mengaitkan dengan semua cerita yang terpampang jelas dalam diary Arca, hingga dapat disumpulkan bahwa selama ini Arca diam-diam menyukaiku. Belum sempat ku tutup diary Arca, aku terkantuk lantas tertidur. Arca menghampiriku lewat mimpi dihari kedelapan, tersenyum lebar seperti mimpi malam sebelumnya. Arca terlihat jauh lebih tampan dari foto yang ia pasang terakhir kali di bbmnya. Di daun pintu kamarku Arca berdiri tegak, tersenyum dan memberikan diarynya padaku, berterima kasih lantas pergi menghilang lembut.
Aku terbangun, ku lihat ponselku sudah pukul tiga dini hari. Akupun bergegas mengambil air wudhu dan bersembah dua rakaat pada Sang Khalik. Selepas salam, aku memanjat doa setinggi-tingginya untuk kematian Arca, sedikit seperti berdialog dengan Arca pada akhir doa.
“ Terima kasih Arca untuk cintamu yang tak pernah aku tahu hingga ajal menjemputmu. Terima kasih atas mimpi-mimpi yang tak sempat aku tafsir lebih cepat dari apa yang sudah terjadi sekarang. Terima kasih untuk skenario yang kamu tulis dalam diarymu. Semua nyata dalam mimpiku seminggu terakhir ini. Ceritamu aku tutup malam ini. Aku yakin tidak akan ada lagi mimpi-mimpi yang singgah di malam-malamku selanjutnya, karena kamu sudah berhenti menulis apa yang ingin kamu hadirkan dalam setiap mimpi-mimpiku. Terima kasih Arca, sampai jumpa. Semoga kita bertemu kembali di dunia yang jauh lebih kekal, agar kamu dapat terus menulis skenario untuk semua mimpi-mimpiku kelak “
Tepat di hari kesembilan, Senin hingga kini tepat satu tahun kematian Arca, Arca tidak pernah hadir dalam mimpi-mimpi yang terangkai tak beraturan dalam tidurku. Selamat jalan Arca, diarymu aku simpan baik-baik sebagai bukti kalau di dunia ini terdapat orang yang sudah merangkai mimpiku dalam sebuah tulisan manis dalam buku hariannya.
SELESAI**

3 komentar:

  1. very nice rianne. selalu ada ciri khas dari cerpenmu, nuansanya pasti religius! haha

    hikmah yang kudapat. cinta arca yang begitu tulus telah membuat malaikat tersentuh dan mendatangi mimpimu!! haha

    satu yang ganjil. kenapa arca mesti keturunan italia? kenapa bukan spanyol?? kan italia kalah lawan spanyol. haha

    sori ketawa terus. tapi sesungguhnya aku tersentuh baca cerpenmu yang ini hah

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. thanks ya bung.. (:

    kenapa namanya Arcadan dari Italy..
    karena nama itu terinspirasi dari nama temenku namanya ARCAvio..dia orang Italy..hehe

    BalasHapus