Senin, 02 Juli 2012

JODOH


Banyak orang bilang, masa SMA adalah masa yang paling sulit untuk dibuang momennya begitu saja, karena untuk kebanyakan orang masa-masa itulah masa yang disebut dengan kesempatan untuk mulai jatuh cinta.
Alex merupakan pria yang sulit untuk jatuh cinta, bahkan sebagian teman-temannya sering meledek Alex sebagai pria ‘tidak normal’, karena setiap ada beberapa wanita disekeliling yang berusaha menarik perhatian Alex, Alex selalu menunjukan respon yang biasa-biasa saja, hingga saat tingkat akhir sekolahnya, Alex mengalami apa yang belum pernah ia alami sebelumnya. Lexi seorang wanita pindahan, satu tingkat lebih muda dari Alex berhasil mencuri perhatian Alex. Dia cantik, dandanan natural tidak neko-neko seperti sesiapa yang sempat berusaha menarik perhatian Alex sebelum-sebelumnya. Satu waktu, Alex memperhatikan Lexi dipelataran kantin, sedang mencoba dirayu oleh teman-teman seangkatan Alex, namun apa yang Alex lihat, Lexi hanya tersenyum lalu pergi sembari meneguk air mineral yang dia beli dikantin. Oh! Lexi gemar bermain basket rupanya.
Terbayangkan, bagaimana sosok seorang Lexi. Wanita natural tanpa make-up, gemar bermain basket, cantik, dan Alex baru tahu kalau Lexi juga ternyata gemar dalam dunia fotografi. Sekali waktu Alex sempat memergoki Lexi sedang asyik memperhatikan objek yang akan ia bidik dalam lensanya.

“Sendirian aja non?”
“Ia. Siapa ya?”
“Aku Alex, kakak kelas kamu”
“Oh..sori kak gak tau. Aku Lexi”

Lexi adalah tipikal wanita yang cuek dan apa adanya. Pertemuan pertama kami saat itu sudah dapat mendeskripsikan bagaimana Lexi sebenarnya, ternyata asyik! Dapat mengimbangi Alex yang sebetulnya berkarakter “rame” dan blak-blakan. Sedari itulah intensitas sapa menyapa di sekolahpun semakin terasa frontal dimata siswa-siswa lain. Alex yang sama-sama gemar basketpun seringkali bertanding one-to-one dengan Lexi saat sore hari menjelang pulang. Bahkan sedikit demi sedikit Alex mulai menyukai dunia fotografi, karena setiap kali Lexi membahas seputar fotografi, Alex merasa tertarik. Entah tertarik dengan materinya, entah tertarik pada orangnya, entahlah...

Satu waktu, Lexi mengajak Alex untuk menghadiri acara pameran foto di PRJ, lantaran ada satu foto Lexi yang diikutsertakan dalam pameran tersebut. Ada yang menarik sepulangnya dari pameran, Lexi lantas mengajak Alex untuk menikmati sore senja memakan es krim ditempat yang suasananya masih sangat klasik. Disana Lexi menyempatkan diri untuk mengambil gambar yang Alex sendiri tak mengerti apa maksud dan judul dari foto yang Lexi ambil lantas tunjukan pada Alex. Lexi memotret Alex yang sedang menjatuhkan es krimnya yang mencair dari sendok es krim ke dalam gelas es krim dari lubang kecil wafer astor berdiameter sekitar tiga senti. Fotonya nampak seperti teropong yang sedang meneropong Alex yang sedang memainkan es krim yang mencair, bagus sih namun Alex tak mengerti maksud dari foto itu apa.


Lexi sempat memberitahu Alex, bahwa kalau Alex ingin melihat hasil foto yang dihasilkan oleh Lexi, Alex dapat melihatnya dalam galeri devianART yang Lexi miliki. Disana Alex mendapati foto berjudul “teropong ice cream”, yang mana objek dalam foto tererbut adalah Alex. Alex tersenyum, lantas membaca deskripsi dari foto tersebut.

teropong itu ibarat hatiku, bahkan semacam lensa kameraku yang tak kasat mata membidik suatu objek yang sedang mengobrak abrik isi hati yang mulai mencair oleh si pencair hati. Adakah kau tahu?apa maksudku?”

Sungguh fotografi itu multimeaning, seringkali sebuah karyanya menjadi bahan tebak-tebakan seperti inilah maksud Alex, Alex tak pandai secara gamblang mengerti apa maksud dari deskripsi foto Lexi yang baru saja  Alex lihat, tapi jujur deskripsi dan fotonya tadi cukup membuat Alex berfikir saban hari siang malam sampai Alex benar-benar samar mengerti apa maksud dari foto Lexi tersebut, meski masih bersifat hipotesis saja.


Minggu itu Alex tak melihat batang hidung Lexi sedikitpun, rasa konsentrasi yang seharusnya ia curahkan semua untuk Ujian Nasional sedikit terpecah belah oleh wajah Lexi yang sedari pagi mengiangi mata hatinya. Namun, tak lama dari itu konsentrasi Alex sepenuhnya ia curahkan untuk Ujian Nasional, sebab diseberang sana yang entah sedang apa dipagi buta memberi salam semangat singkat.

“Konsentrasi Lex! Biar nilainya memuaskan ! Spirit ! J

Sengaja tak Alex balas pesan lexi saat itu juga, ia berniat untuk meneleponnya selepas ujian hari itu selesai. Hal seperti itu ternyata terjadi selama kurun hari ujian. Lexi tak bosan setiap harinya mengirim text yang serupa pada Alex, dan Alexpun merasa kalau kegiatan barunya ini bukan malah membuatnya bosan namun membuatnya ketergantungan, hingga suatu ketika obrolan mereka tidak hanya seputar semangat menyemangati, fotografi, basket dan sekolah namun sudah berlanjut pada pembahasan pamit-pamitan.

“Lex, aku ke bengkel dulu ya benerin motor. Nanti abis itu aku jemput kamu buat ke toko kamera. Aku kabarin kamu lagi ya kalo udah di bengkel, aku pergi sekarang”

“Ia Alex, hati-hati jangan ngebut”

Masing-masing dari mereka tidak menyadari kedekatan diantara mereka yang semakin intim, terlebih sekarang Alex sudah mulai mencintai dunia fotografi seperti Lexi. Alasan Alex terjun ke hobi fotografi bukan semata-mata karena Lexi, ada maksud lain dibalik itu.

“Aku ingin belajar mendeskripsikan gambar yang seringkali tak mudah untuk aku mengerti dan cerna apa maksud dari gambar tersebut”

“Sama. Akupun begitu. Ayahku seorang jurnalis, dia pintar sekali mendeskripsikan sesuatu. Entah itu dalam bentuk gambar ataupun gerak gerik gaya orang. Dari dia aku mulai menyukai dunia fotografi, meski dia bukan seorang fotografer. Dari dia aku belajar mendeskripsikan sesuatu, bahkan dengan sendirinya terlatih untuk membuat deskripsi baru dari foto-foto baruku”

“My first photo is..when graduation day!”


Sebulan setelah ujian nasional, berita kelulusanpun sampai pada telinga siswa kelas akhir, dan seminggu setelahnya perayaan kelulusanpun diadakan. Momen dimana pertama kalinya Alex ingin mendeskripsikan misteri dibalik suatu gambar, momen dimana Alex dan Lexi mungkin akan semakin jarang melihat satu sama lain seperti sebelumnya saat masih berada dalam satu lingkungan sekolah.

“Kuliah dimana Lex jadinya?ambil jurusan apa?”

“Dimanapun itu yang penting masih bisa menjangkau jarak aku sama kamu Lex. Kemungkinan besar Hubungan Internasional. Aku kepengin kerja di kedutaan besar”

Lexi tersenyum, lalu memberi setangkai mawar putih untuk Alex dipinggiran lapang basket yang tak begitu ramai oleh siswa-siswa lain yang sedang merayakan kelulusan.

“Congratulation Lex. Semoga kamu sukses dengan mimpi kamu buat jadi duta besar negara. Aku bantu doa”

“Thanks bunganya. Aku simpan pasti”


Selulusnya Alex, kehidupan disekolah memang sedikit berubah pada Lexi, tidak ada lagi laki-laki temannya bermain basket, bahkan untuk hunting fotopun seringkali Lexi lakukan sendiri karena kesibukan kuliah Alex yang ternyata jauh lebih sibuk dari apa yang sempat Lexi bayangkan. Terlepas dari itu, komunikasi diantara mereka masih tetap terjalin, meski kadar pertemuan mereka sudah tak sesering dulu. Sampai akhirnya komunikasipun semakin hari semakin memudar. Mulai tidak mengabari satu sama lain, karena kesibukan masing-masing. Alex dengan kesibukannya sebagai mahasiswa baru, sedang Lexi sibuk konsentrasi dengan ujian nasional yang segera dia hadapi dalam waktu dekat ini. Semua konsentrasi seakan melupakan hubungan ‘tak jelas’ antara mereka berdua. Hingga kelulusan Lexi tiba, dengan tiba-tiba Alex datang membalas mawar putih yang sempat Lexi berikan tahun lalu saat kelulusannya.

“Congrats ya Lex. Lulus juga. Pertanyaan yang sama..kuliah dimana Lex jadinya?ambil jurusan apa?”
“Broadcasting. Belum tahu dimana, mungkin diluar Jakarta”

Alex menatap datar Lexi yang sedari tadi nampak setengah melamun. Pikirnya, kalau Lexi sampai kuliah di luar Jakarta, intensitas kedekatan mereka malah semakin menjauh entah sampai kapan tak tahu.

Sejak hari itu, Alex tak pernah melihat batang hidung Lexi lagi hingga tiga tahun terakhir. Bahkan kelulusan sarjananyapun kini didampingi oleh sosok wanita idaman baru bernama Keandra. Mereka sudah menjalin hubungan istimewa sejak satu tahun terakhir, dan akan menikah dalam kurun waktu dua tahun lagi dari tahun kelulusan mereka berdua.

Keandra yang merupakan teman satu kampus Alex ternyata sudah menarik perhatian Alex sejak pertama mereka masuk dunia perkuliahan, namun saat itu dihati Alex masih tersimpan sosok Lexi yang meski hingga detik ini tidak ada kejelasan antara mereka berdua, hingga hilangnya kabar Lexi dari pertemuan kelulusannya dahulu, hati Alex sedikit demi sedikit terbuka untuk Keandra wanita yang jauh lebih anggun dari Lexi, tidak suka basket sama sekali namun masih berkecimpung dalam dunia fotografi sebagai objek gambar, bukan sebagai orang dibalik penangkap objek seperti Lexi.


Baligo besar terpampang dibalik ruang kerja Alex yang berada dilantai lima. Dahinya sedikit menggernyit, teringat Lexi saat melihat dan membaca tulisan dalam baligo tersebut, baligo pameran foto ditempat yang sama ditahun berbeda. Jika beberapa tahun lalu Alex yang belum mengerti bagaimana cara mendeskripsikan gambar secara gamblang, kini sudah dikatakan cukup mahir dalam hal seperti itu. Pekan itu Alex pergi sendiri mengunjungi pameran foto, karena Keandra tidak dapat mendampingi dengan alasan pemotretan yang tidak bisa ditinggal.

Sepanjang lorong gambar, Alex amati secara detail setiap gambar untuk dideskripsikan. Ada satu foto yang menarik perhatian Alex, sebuah mawar putih yang digenggam di dada oleh seorang wanita berwajah kebaratan berpakaian serba hitam sembari menunduk mencium mawar putih tersebut. Gambarnya nampak hitam putih, hanya mawar yang terlihat berwarna sampai hijau batang-batangnya. Alex buka lipatan kertas di bawah foto tersebut, tertulis “Setia-Lexi”. Jantung Alex berdetak tak biasa saat melihat judul foto dan nama fotografer yang tertera dibalik lipatan kertas dibawah foto mawar putih itu.

Alex berfirasat kalau Lexi berada disekitar pameran tersebut, nasib buruk mengelilingi pelosok setempat tak kunjung ditemukan batang hidung Lexi oleh Alex. Rasa gelisah semakin meradang saat tahu kalau Lexi benar-benar tak kunjung menunjukkan sinyal-sinyal keberadaannya. Hatinya merintih mencari Lexi, kerinduan itu melemaskan seluruh organ-organ yang biasanya tegak berdiri.

Sejak hari itu, rasa cinta yang tertuang untuk Keandra terasa hambar. Namun karena faktor keluarga yang sudah semakin hari semakin semangat membicarakan pernikahan mereka, terpaksa Alex harus melawan rasa kegelisahan hatinya terhadap Lexi hingga tiba akhirnya Alex dan Keandra melepas masa lajang mereka, jodoh memang misterius, terkadang tak sepenuhnya sesuai dengan keinginan hati. Alex kini milik Keandra, tanpa Lexi tahu dan entah dia ingin tahu atau tidak dimana Lexipun Alex tak tahu.


Hingga tahun ketiga usia pernikahan Alex dan Keandra, rumah tangga merekapun belum ramai oleh tangisan buah hati dengan alasan Keandra masih ingin fokus pada dunia modelingnya, Alexpun tak mempermasalahkan meski rasa kecewa sempat hadir menyelimuti.

Selain faktor belum dikaruniainya seorang anak, faktor dunia pekerjaan Keandra membuat kicruh rumah tangga mereka secara perlahan. Pergaulan Keandra semakin tidak beres, tidak mengurus Alex dengan sebagaimana mestinya seorang istri pada suaminya. Hingga pada suatu malam Keandra izin pada Alex untuk menghadiri ulangtahun teman satu pekerjaannya di satu clubbing malam, Alex tak memberi izin Keandra untuk pergi malam itu, namun Keandra tetap bersikeras untuk menghadiri acara ulangtahun tersebut. Bukan maksud Alex mendoakan yang tidak-tidak pada istrinya sendiri, namun diperjalanannya Keandra menuju pulang dari acara tersebut, Keandra mengalami kecelakaan yang membuat mobil yang Keandra kemudikan hancur berantakan. Keandra kritis, bukan hanya faktor luka dari kecelakaan saja yang membuatnya sekritis ini, namun sebab lain. Terjadi kerusakan fatal pada paru-paru Keandra, akibat dari perokok berat dan efek alkohol yang membakar paru-paru Keandra secara perlahan. Alex hanya mengelus dada dan terus berdoa untuk kesembuhan sang istri, namun takdir berkata lain seminggu Keandra dinyatakan koma setelah itu menemui jalan titik. Keandra meninggal dunia tanpa meninggalkan sepotong pesan untuk Alex.

Bukan perkara mudah melupakan orang yang sempat mengisi relung hati seorang pria, terlebih lagi statusnya sudah menikah. Kini Alex menjadi seorang duda ditinggal mati lengkap tak beranak. Hidup Alex serasa nyaris terhenti sampai disitu, tapi hidup harus terus berjalan dan pekerjaan harus tetap ditunaikan demi kelangsungan kesempatan yang masih Tuhan berikan padanya.

Empat bulan sudah Keandra pergi meninggalkan Alex, belum ada tanda-tanda untuk menyegera mencari pengganti Keandra dalam hati Alex, meski hatinya sudah benar-benar ikhlas melepas kepergian Keandra. Bulan kelima, Alex mendapat tugas diplomat kunjungan ke kota Paris di lain benua sana selama satu minggu. Tidak ada firasat buruk atau baik yang Alex terima sebelum ia memutuskan untuk pergi ke Paris, yang ia rasakan hanya rasa senang karena dapat sedikit waktu untuk liburan melepas kepenatan otak dalam padatnya ibu kota megapolitan Indonesia. Ada satu, dia membawa buku kecil yang didalamnya tersimpan potongan-potongan mawar putih kering yang sempat Lexi berikan saat kelulusan dulu.


Setibanya Alex di Paris, Alex menunaikan kewajibannya sebagai diplomatik. Hanya satu hari, selebihnya memang terasa liburan. Selama lima hari waktu kosong Alex banyak menghabiskan waktu mengitari seputaran kota Paris. Ada yang menarik, dipelataran menara romantis yang menjuntai itu, nampak kerumunan orang yang sebagiannya Alex mengenali ras-ras dari muka mereka.

“Wah! Ada orang Indonesia nih..lagi pada bikin film. Lihat ah!”

Alex mendekat dalam kerumunan itu, benar ternyata terdapat beberapa orang Indonesia terdapat didalamnya. Ada yang Alex kenali salah satunya, nampak seperti memegang peran sebagai dalang dari film yang sedang proses tersebut.

“Cut!”

“Lexi !”

Spontan air mata Alex jatuh mengiringi senyum bahagia yang tak terduga. Lexi nampak shock dan memasang muka serupa. Tubuh mereka mendekat, aliran darah terasa mengalir deras hingga ubun-ubun, jantung seakan bangun dari mati suri. Getaran itu masing-masing mereka rasakan sampai akhirnya masing-masing dari mereka mempercepat langkah lalu berpeluk rindu dan menangis haru.

“Apa kabar Lex?Kamu kemana aja selama ini?”
“Baik. Aku disini, dipelukan kamu Alex”
“Jangan pergi lagi yah Lexi..”

Adegan yang bukan merupakan penggalan dari skenario film itu pun berlanjut malam hari ditempat yang sama. Alex dan Lexi menghabiskan semalam suntuk di taman pelataran eiffel, bertukar cerita dan progres apa saja yang sudah dan belum mereka capai selama ini, tepatnya selama mereka tidak pernah bertegur sapa bahkan saling berjumpa.

“Jadi selama ini kamu sekolah broadcasting di Paris?lulus dan jadi sutradara disini?”
“Ia Lex. Semua alasan itu sudah terlalu berharga dibanding keputusan untuk kembali ke tanah air”
“Sudah menikah?”
“Belum.”
“Oh. Eh ia, aku sempat melihat satu foto dipameran enam bulan lalu. Foto mawar putih judulnya ‘Setia’, tertanda fotografernya nama kamu, Lex. Itu kamu bukan?”
“Ia. Itu fotoku. Aku menyuruh ayah untuk mengirimkan satu foto karyaku untuk dipamerankan disana, tanpa aku melihatnya langsung. Apa kabar Jakarta?masih seramai dulu?”
“Itu apa Lex?”
“Oh! Ini buku saku saja sengaja aku bawa sebab ada mawar putih darimu yang masih aku simpan”
“Setia. Akupun masih menyimpannya, dilembaran album foto yang aku ambil semasa SMA dulu. Apa kabar Jakarta?”
“Jakarta semakin ramai, dan semakin sepi”

Dahi Lexi menggernyit heran. Alex memaparkan bagaimana kondisi kota Jakarta dewasa ini, juga mengenai “Jakarta Sepi”. Jakarta  Sepi yang Alex maksud adalah gambaran dari hati Alex yang kosong karena baru beberapa bulan ditinggal pergi oleh istrinya, Keandra. Lexi nampak datar, tak ada satu isyaratpun yang menunjukkan bahwa Lexi kecewa karena Alex sudah sempat menikah, atau mungkin malah sebaliknya namun menunjukkan wajah yang pura-pura.

“Sabar yah Lex. Orang sabar selalu dikasih kemudahan sama Tuhan, termasuk masalah jodoh”
“Coba lihat mataku Lex”
“Kenapa Lex??Hallooooo..Alex??kok bengong??”
“Kamu melihat ada jodoh gak di mataku?”
“?????”
“Menara romantis itu saksinya, bahwa sedari kita masih berseragam abu-abu hingga kini kita berubah menjadi apa yang menjadi pilihan kita, satu yang kekal Lex..satu yang aku tidak tahu..dan satu yang selalu menjadi pertanyaanku..”
“.........”
“Satu yang kekal, yaitu perasaan aku sama kamu, meskipun sempat sekali aku pernah menikah dengan orang lain. Satu yang aku tidak pernah tahu sampai detik ini, bagaimana perasaan kamu sama aku dulu dan sekarang. Dan satu yang selalu menjadi pertanyaanku sama kamu, kalau kelak usia kamu sudah siap, mau gak kamu jadi ibu dari anak-anak aku nanti?”

Lexi terdiam kaku, mulutnya terkunci tak berpatah apapun, hanya telingga mendengar, dan mata yang berbicara ada cinta dari mata Lexi, ada bertubi-tubi jawaban yang tersimpan dalam mata Lexi yang tak sempat tercap oleh bibir. Lexi menangis, dan tak lama Alex mengangkat bahu Lexi kemudian saling berhadapan berdiri. Alex mencium kening Lexi lembut dengan durasi entah berapa lama. Selepasnya, Alex kembali melihat wajah Lexi yang masih memejamkan matanya, hingga gerakan tangan Alex menyentuh dagu Lexi kemudian mengangkat perlahan wajah Lexi hingga matanya benar-benar terbuka, mereka saling menatap kembali dan Lexi memeluk Alex seerat-eratnya.

“Tuhan sudah mengatur semuanya Lex. Jodoh itu sehidup semati, bukan satu hidup satu mati. Selama masih ada kesempatan untuk bernafas, selama itulah kita masih berhak mencari jodoh kita sekalipun salah satu dari jodoh kita sudah pernah mengenyam cinta dengan siapa yang sudah tak bernafas lagi. Jodoh itu akan dipertemukan saat waktu berbicara kalau keduanya merasa sudah siap. Jodoh itu..seperti aku dan kamu” 
–Lexi-

SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar