Banyak orang bilang, masa SMA
adalah masa yang paling sulit untuk dibuang momennya begitu saja, karena untuk
kebanyakan orang masa-masa itulah masa yang disebut dengan kesempatan untuk
mulai jatuh cinta.
Alex merupakan pria yang sulit
untuk jatuh cinta, bahkan sebagian teman-temannya sering meledek Alex sebagai
pria ‘tidak normal’, karena setiap ada beberapa wanita disekeliling yang
berusaha menarik perhatian Alex, Alex selalu menunjukan respon yang biasa-biasa
saja, hingga saat tingkat akhir sekolahnya, Alex mengalami apa yang belum
pernah ia alami sebelumnya. Lexi seorang wanita pindahan, satu tingkat lebih
muda dari Alex berhasil mencuri perhatian Alex. Dia cantik, dandanan natural
tidak neko-neko seperti sesiapa yang sempat berusaha menarik perhatian Alex
sebelum-sebelumnya. Satu waktu, Alex memperhatikan Lexi dipelataran kantin,
sedang mencoba dirayu oleh teman-teman seangkatan Alex, namun apa yang Alex
lihat, Lexi hanya tersenyum lalu pergi sembari meneguk air mineral yang dia beli
dikantin. Oh! Lexi gemar bermain basket rupanya.
Terbayangkan, bagaimana sosok
seorang Lexi. Wanita natural tanpa make-up, gemar bermain basket, cantik, dan
Alex baru tahu kalau Lexi juga ternyata gemar dalam dunia fotografi. Sekali
waktu Alex sempat memergoki Lexi sedang asyik memperhatikan objek yang akan ia
bidik dalam lensanya.
“Sendirian aja non?”
“Ia. Siapa ya?”
“Aku Alex, kakak kelas kamu”
“Oh..sori kak gak tau. Aku Lexi”
Lexi adalah tipikal wanita yang
cuek dan apa adanya. Pertemuan pertama kami saat itu sudah dapat
mendeskripsikan bagaimana Lexi sebenarnya, ternyata asyik! Dapat mengimbangi
Alex yang sebetulnya berkarakter “rame” dan blak-blakan. Sedari itulah
intensitas sapa menyapa di sekolahpun semakin terasa frontal dimata siswa-siswa
lain. Alex yang sama-sama gemar basketpun seringkali bertanding one-to-one
dengan Lexi saat sore hari menjelang pulang. Bahkan sedikit demi sedikit Alex
mulai menyukai dunia fotografi, karena setiap kali Lexi membahas seputar
fotografi, Alex merasa tertarik. Entah tertarik dengan materinya, entah
tertarik pada orangnya, entahlah...
Satu
waktu, Lexi mengajak Alex untuk menghadiri acara pameran foto di PRJ, lantaran
ada satu foto Lexi yang diikutsertakan dalam pameran tersebut. Ada yang menarik
sepulangnya dari pameran, Lexi lantas mengajak Alex untuk menikmati sore senja
memakan es krim ditempat yang suasananya masih sangat klasik. Disana Lexi
menyempatkan diri untuk mengambil gambar yang Alex sendiri tak mengerti apa
maksud dan judul dari foto yang Lexi ambil lantas tunjukan pada Alex. Lexi
memotret Alex yang sedang menjatuhkan es krimnya yang mencair dari sendok es
krim ke dalam gelas es krim dari lubang kecil wafer astor berdiameter sekitar
tiga senti. Fotonya nampak seperti teropong yang sedang meneropong Alex yang
sedang memainkan es krim yang mencair, bagus sih namun Alex tak mengerti maksud
dari foto itu apa.
Lexi sempat memberitahu Alex,
bahwa kalau Alex ingin melihat hasil foto yang dihasilkan oleh Lexi, Alex dapat
melihatnya dalam galeri devianART yang Lexi miliki. Disana Alex mendapati foto
berjudul “teropong ice cream”, yang mana objek dalam foto tererbut adalah Alex.
Alex tersenyum, lantas membaca deskripsi dari foto tersebut.
“teropong itu ibarat hatiku, bahkan semacam lensa kameraku yang tak
kasat mata membidik suatu objek yang sedang mengobrak abrik isi hati yang mulai
mencair oleh si pencair hati. Adakah kau tahu?apa maksudku?”
Sungguh
fotografi itu multimeaning,
seringkali sebuah karyanya menjadi bahan tebak-tebakan seperti inilah maksud
Alex, Alex tak pandai secara gamblang mengerti apa maksud dari deskripsi foto
Lexi yang baru saja Alex lihat, tapi
jujur deskripsi dan fotonya tadi cukup membuat Alex berfikir saban hari siang
malam sampai Alex benar-benar samar mengerti apa maksud dari foto Lexi
tersebut, meski masih bersifat hipotesis saja.
Minggu itu Alex tak melihat
batang hidung Lexi sedikitpun, rasa konsentrasi yang seharusnya ia curahkan
semua untuk Ujian Nasional sedikit terpecah belah oleh wajah Lexi yang sedari
pagi mengiangi mata hatinya. Namun, tak lama dari itu konsentrasi Alex
sepenuhnya ia curahkan untuk Ujian Nasional, sebab diseberang sana yang entah
sedang apa dipagi buta memberi salam semangat singkat.
“Konsentrasi Lex! Biar nilainya
memuaskan ! Spirit ! J”
Sengaja tak Alex balas pesan lexi
saat itu juga, ia berniat untuk meneleponnya selepas ujian hari itu selesai.
Hal seperti itu ternyata terjadi selama kurun hari ujian. Lexi tak bosan setiap
harinya mengirim text yang serupa pada Alex, dan Alexpun merasa kalau kegiatan
barunya ini bukan malah membuatnya bosan namun membuatnya ketergantungan, hingga
suatu ketika obrolan mereka tidak hanya seputar semangat menyemangati,
fotografi, basket dan sekolah namun sudah berlanjut pada pembahasan
pamit-pamitan.
“Lex, aku ke bengkel dulu ya
benerin motor. Nanti abis itu aku jemput kamu buat ke toko kamera. Aku kabarin
kamu lagi ya kalo udah di bengkel, aku pergi sekarang”
“Ia Alex, hati-hati jangan
ngebut”
Masing-masing dari mereka tidak
menyadari kedekatan diantara mereka yang semakin intim, terlebih sekarang Alex
sudah mulai mencintai dunia fotografi seperti Lexi. Alasan Alex terjun ke hobi
fotografi bukan semata-mata karena Lexi, ada maksud lain dibalik itu.
“Aku ingin belajar
mendeskripsikan gambar yang seringkali tak mudah untuk aku mengerti dan cerna
apa maksud dari gambar tersebut”
“Sama. Akupun begitu. Ayahku
seorang jurnalis, dia pintar sekali mendeskripsikan sesuatu. Entah itu dalam
bentuk gambar ataupun gerak gerik gaya orang. Dari dia aku mulai menyukai dunia
fotografi, meski dia bukan seorang fotografer. Dari dia aku belajar
mendeskripsikan sesuatu, bahkan dengan sendirinya terlatih untuk membuat
deskripsi baru dari foto-foto baruku”
“My
first photo is..when graduation day!”
Sebulan setelah ujian nasional,
berita kelulusanpun sampai pada telinga siswa kelas akhir, dan seminggu
setelahnya perayaan kelulusanpun diadakan. Momen dimana pertama kalinya Alex
ingin mendeskripsikan misteri dibalik suatu gambar, momen dimana Alex dan Lexi
mungkin akan semakin jarang melihat satu sama lain seperti sebelumnya saat masih
berada dalam satu lingkungan sekolah.
“Kuliah dimana Lex jadinya?ambil
jurusan apa?”
“Dimanapun itu yang penting masih
bisa menjangkau jarak aku sama kamu Lex. Kemungkinan besar Hubungan
Internasional. Aku kepengin kerja di kedutaan besar”
Lexi tersenyum, lalu memberi
setangkai mawar putih untuk Alex dipinggiran lapang basket yang tak begitu
ramai oleh siswa-siswa lain yang sedang merayakan kelulusan.
“Congratulation Lex. Semoga kamu
sukses dengan mimpi kamu buat jadi duta besar negara. Aku bantu doa”
“Thanks
bunganya. Aku simpan pasti”
Selulusnya Alex, kehidupan
disekolah memang sedikit berubah pada Lexi, tidak ada lagi laki-laki temannya
bermain basket, bahkan untuk hunting fotopun seringkali Lexi lakukan sendiri
karena kesibukan kuliah Alex yang ternyata jauh lebih sibuk dari apa yang
sempat Lexi bayangkan. Terlepas dari itu, komunikasi diantara mereka masih
tetap terjalin, meski kadar pertemuan mereka sudah tak sesering dulu. Sampai
akhirnya komunikasipun semakin hari semakin memudar. Mulai tidak mengabari satu
sama lain, karena kesibukan masing-masing. Alex dengan kesibukannya sebagai
mahasiswa baru, sedang Lexi sibuk konsentrasi dengan ujian nasional yang segera
dia hadapi dalam waktu dekat ini. Semua konsentrasi seakan melupakan hubungan
‘tak jelas’ antara mereka berdua. Hingga kelulusan Lexi tiba, dengan tiba-tiba
Alex datang membalas mawar putih yang sempat Lexi berikan tahun lalu saat
kelulusannya.
“Congrats ya Lex. Lulus juga.
Pertanyaan yang sama..kuliah dimana Lex jadinya?ambil jurusan apa?”
“Broadcasting. Belum tahu dimana,
mungkin diluar Jakarta”
Alex menatap datar Lexi yang
sedari tadi nampak setengah melamun. Pikirnya, kalau Lexi sampai kuliah di luar
Jakarta, intensitas kedekatan mereka malah semakin menjauh entah sampai kapan
tak tahu.
Sejak hari itu, Alex tak pernah
melihat batang hidung Lexi lagi hingga tiga tahun terakhir. Bahkan kelulusan
sarjananyapun kini didampingi oleh sosok wanita idaman baru bernama Keandra.
Mereka sudah menjalin hubungan istimewa sejak satu tahun terakhir, dan akan
menikah dalam kurun waktu dua tahun lagi dari tahun kelulusan mereka berdua.
Keandra
yang merupakan teman satu kampus Alex ternyata sudah menarik perhatian Alex
sejak pertama mereka masuk dunia perkuliahan, namun saat itu dihati Alex masih
tersimpan sosok Lexi yang meski hingga detik ini tidak ada kejelasan antara
mereka berdua, hingga hilangnya kabar Lexi dari pertemuan kelulusannya dahulu,
hati Alex sedikit demi sedikit terbuka untuk Keandra wanita yang jauh lebih
anggun dari Lexi, tidak suka basket sama sekali namun masih berkecimpung dalam
dunia fotografi sebagai objek gambar, bukan sebagai orang dibalik penangkap
objek seperti Lexi.
Baligo besar terpampang dibalik
ruang kerja Alex yang berada dilantai lima. Dahinya sedikit menggernyit,
teringat Lexi saat melihat dan membaca tulisan dalam baligo tersebut, baligo
pameran foto ditempat yang sama ditahun berbeda. Jika beberapa tahun lalu Alex
yang belum mengerti bagaimana cara mendeskripsikan gambar secara gamblang, kini
sudah dikatakan cukup mahir dalam hal seperti itu. Pekan itu Alex pergi sendiri
mengunjungi pameran foto, karena Keandra tidak dapat mendampingi dengan alasan
pemotretan yang tidak bisa ditinggal.
Sepanjang lorong gambar, Alex
amati secara detail setiap gambar untuk dideskripsikan. Ada satu foto yang
menarik perhatian Alex, sebuah mawar putih yang digenggam di dada oleh seorang
wanita berwajah kebaratan berpakaian serba hitam sembari menunduk mencium mawar
putih tersebut. Gambarnya nampak hitam putih, hanya mawar yang terlihat
berwarna sampai hijau batang-batangnya. Alex buka lipatan kertas di bawah foto
tersebut, tertulis “Setia-Lexi”. Jantung Alex berdetak tak biasa saat melihat
judul foto dan nama fotografer yang tertera dibalik lipatan kertas dibawah foto
mawar putih itu.
Alex berfirasat kalau Lexi berada
disekitar pameran tersebut, nasib buruk mengelilingi pelosok setempat tak
kunjung ditemukan batang hidung Lexi oleh Alex. Rasa gelisah semakin meradang
saat tahu kalau Lexi benar-benar tak kunjung menunjukkan sinyal-sinyal
keberadaannya. Hatinya merintih mencari Lexi, kerinduan itu melemaskan seluruh
organ-organ yang biasanya tegak berdiri.
Sejak
hari itu, rasa cinta yang tertuang untuk Keandra terasa hambar. Namun karena
faktor keluarga yang sudah semakin hari semakin semangat membicarakan
pernikahan mereka, terpaksa Alex harus melawan rasa kegelisahan hatinya
terhadap Lexi hingga tiba akhirnya Alex dan Keandra melepas masa lajang mereka,
jodoh memang misterius, terkadang tak sepenuhnya sesuai dengan keinginan hati.
Alex kini milik Keandra, tanpa Lexi tahu dan entah dia ingin tahu atau tidak
dimana Lexipun Alex tak tahu.
Hingga tahun ketiga usia
pernikahan Alex dan Keandra, rumah tangga merekapun belum ramai oleh tangisan
buah hati dengan alasan Keandra masih ingin fokus pada dunia modelingnya,
Alexpun tak mempermasalahkan meski rasa kecewa sempat hadir menyelimuti.
Selain faktor belum dikaruniainya
seorang anak, faktor dunia pekerjaan Keandra membuat kicruh rumah tangga mereka
secara perlahan. Pergaulan Keandra semakin tidak beres, tidak mengurus Alex
dengan sebagaimana mestinya seorang istri pada suaminya. Hingga pada suatu
malam Keandra izin pada Alex untuk menghadiri ulangtahun teman satu
pekerjaannya di satu clubbing malam, Alex tak memberi izin Keandra untuk pergi
malam itu, namun Keandra tetap bersikeras untuk menghadiri acara ulangtahun
tersebut. Bukan maksud Alex mendoakan yang tidak-tidak pada istrinya sendiri,
namun diperjalanannya Keandra menuju pulang dari acara tersebut, Keandra
mengalami kecelakaan yang membuat mobil yang Keandra kemudikan hancur
berantakan. Keandra kritis, bukan hanya faktor luka dari kecelakaan saja yang
membuatnya sekritis ini, namun sebab lain. Terjadi kerusakan fatal pada
paru-paru Keandra, akibat dari perokok berat dan efek alkohol yang membakar
paru-paru Keandra secara perlahan. Alex hanya mengelus dada dan terus berdoa
untuk kesembuhan sang istri, namun takdir berkata lain seminggu Keandra
dinyatakan koma setelah itu menemui jalan titik. Keandra meninggal dunia tanpa
meninggalkan sepotong pesan untuk Alex.
Bukan perkara mudah melupakan
orang yang sempat mengisi relung hati seorang pria, terlebih lagi statusnya
sudah menikah. Kini Alex menjadi seorang duda ditinggal mati lengkap tak
beranak. Hidup Alex serasa nyaris terhenti sampai disitu, tapi hidup harus
terus berjalan dan pekerjaan harus tetap ditunaikan demi kelangsungan
kesempatan yang masih Tuhan berikan padanya.
Empat
bulan sudah Keandra pergi meninggalkan Alex, belum ada tanda-tanda untuk
menyegera mencari pengganti Keandra dalam hati Alex, meski hatinya sudah
benar-benar ikhlas melepas kepergian Keandra. Bulan kelima, Alex mendapat tugas
diplomat kunjungan ke kota Paris di lain benua sana selama satu minggu. Tidak
ada firasat buruk atau baik yang Alex terima sebelum ia memutuskan untuk pergi
ke Paris, yang ia rasakan hanya rasa senang karena dapat sedikit waktu untuk
liburan melepas kepenatan otak dalam padatnya ibu kota megapolitan Indonesia.
Ada satu, dia membawa buku kecil yang didalamnya tersimpan potongan-potongan
mawar putih kering yang sempat Lexi berikan saat kelulusan dulu.
Setibanya Alex di Paris, Alex
menunaikan kewajibannya sebagai diplomatik. Hanya satu hari, selebihnya memang
terasa liburan. Selama lima hari waktu kosong Alex banyak menghabiskan waktu
mengitari seputaran kota Paris. Ada yang menarik, dipelataran menara romantis
yang menjuntai itu, nampak kerumunan orang yang sebagiannya Alex mengenali
ras-ras dari muka mereka.
“Wah! Ada orang Indonesia
nih..lagi pada bikin film. Lihat ah!”
Alex mendekat dalam kerumunan
itu, benar ternyata terdapat beberapa orang Indonesia terdapat didalamnya. Ada
yang Alex kenali salah satunya, nampak seperti memegang peran sebagai dalang
dari film yang sedang proses tersebut.
“Cut!”
“Lexi !”
Spontan air mata Alex jatuh
mengiringi senyum bahagia yang tak terduga. Lexi nampak shock dan memasang muka serupa. Tubuh mereka mendekat, aliran darah
terasa mengalir deras hingga ubun-ubun, jantung seakan bangun dari mati suri.
Getaran itu masing-masing mereka rasakan sampai akhirnya masing-masing dari
mereka mempercepat langkah lalu berpeluk rindu dan menangis haru.
“Apa kabar Lex?Kamu kemana aja
selama ini?”
“Baik. Aku disini, dipelukan kamu
Alex”
“Jangan pergi lagi yah Lexi..”
Adegan yang bukan merupakan
penggalan dari skenario film itu pun berlanjut malam hari ditempat yang sama.
Alex dan Lexi menghabiskan semalam suntuk di taman pelataran eiffel, bertukar cerita dan progres apa
saja yang sudah dan belum mereka capai selama ini, tepatnya selama mereka tidak
pernah bertegur sapa bahkan saling berjumpa.
“Jadi selama ini kamu sekolah
broadcasting di Paris?lulus dan jadi sutradara disini?”
“Ia Lex. Semua alasan itu sudah
terlalu berharga dibanding keputusan untuk kembali ke tanah air”
“Sudah menikah?”
“Belum.”
“Oh. Eh ia, aku sempat melihat
satu foto dipameran enam bulan lalu. Foto mawar putih judulnya ‘Setia’,
tertanda fotografernya nama kamu, Lex. Itu kamu bukan?”
“Ia. Itu fotoku. Aku menyuruh
ayah untuk mengirimkan satu foto karyaku untuk dipamerankan disana, tanpa aku
melihatnya langsung. Apa kabar Jakarta?masih seramai dulu?”
“Itu apa Lex?”
“Oh! Ini buku saku saja sengaja
aku bawa sebab ada mawar putih darimu yang masih aku simpan”
“Setia. Akupun masih
menyimpannya, dilembaran album foto yang aku ambil semasa SMA dulu. Apa kabar
Jakarta?”
“Jakarta semakin ramai, dan
semakin sepi”
Dahi Lexi menggernyit heran. Alex
memaparkan bagaimana kondisi kota Jakarta dewasa ini, juga mengenai “Jakarta
Sepi”. Jakarta Sepi yang Alex maksud
adalah gambaran dari hati Alex yang kosong karena baru beberapa bulan ditinggal
pergi oleh istrinya, Keandra. Lexi nampak datar, tak ada satu isyaratpun yang
menunjukkan bahwa Lexi kecewa karena Alex sudah sempat menikah, atau mungkin
malah sebaliknya namun menunjukkan wajah yang pura-pura.
“Sabar yah Lex. Orang sabar
selalu dikasih kemudahan sama Tuhan, termasuk masalah jodoh”
“Coba lihat mataku Lex”
“Kenapa Lex??Hallooooo..Alex??kok
bengong??”
“Kamu melihat ada jodoh gak di
mataku?”
“?????”
“Menara romantis itu saksinya,
bahwa sedari kita masih berseragam abu-abu hingga kini kita berubah menjadi apa
yang menjadi pilihan kita, satu yang kekal Lex..satu yang aku tidak tahu..dan
satu yang selalu menjadi pertanyaanku..”
“.........”
“Satu yang kekal, yaitu perasaan
aku sama kamu, meskipun sempat sekali aku pernah menikah dengan orang lain.
Satu yang aku tidak pernah tahu sampai detik ini, bagaimana perasaan kamu sama
aku dulu dan sekarang. Dan satu yang selalu menjadi pertanyaanku sama kamu,
kalau kelak usia kamu sudah siap, mau gak kamu jadi ibu dari anak-anak aku
nanti?”
Lexi terdiam kaku, mulutnya
terkunci tak berpatah apapun, hanya telingga mendengar, dan mata yang berbicara
ada cinta dari mata Lexi, ada bertubi-tubi jawaban yang tersimpan dalam mata
Lexi yang tak sempat tercap oleh bibir. Lexi menangis, dan tak lama Alex
mengangkat bahu Lexi kemudian saling berhadapan berdiri. Alex mencium kening
Lexi lembut dengan durasi entah berapa lama. Selepasnya, Alex kembali melihat
wajah Lexi yang masih memejamkan matanya, hingga gerakan tangan Alex menyentuh
dagu Lexi kemudian mengangkat perlahan wajah Lexi hingga matanya benar-benar
terbuka, mereka saling menatap kembali dan Lexi memeluk Alex seerat-eratnya.
“Tuhan sudah mengatur semuanya
Lex. Jodoh itu sehidup semati, bukan satu hidup satu mati. Selama masih ada kesempatan untuk bernafas, selama itulah kita masih berhak mencari jodoh kita sekalipun salah satu dari jodoh kita sudah pernah mengenyam cinta dengan siapa yang sudah tak bernafas lagi. Jodoh itu akan
dipertemukan saat waktu berbicara kalau keduanya merasa sudah siap. Jodoh
itu..seperti aku dan kamu”
–Lexi-
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar